Kesehatan mata

Gangguan Penglihatan Masalah Sosial

Kompas.com - 12/11/2010, 04:09 WIB

JAKARTA KOMPAS - Indonesia adalah negara Asia yang tertinggal dalam mengatasi masalah kebutaan. Kini jumlah kasus kebutaan 1,5 persen dari total jumlah penduduk, sementara jumlah penderita kebutaan di negara-negara Asia selain Indonesia kurang dari 1 persen.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengemukakan itu dalam sambutannya pada acara Charity Golf Tournament Peduli Penglihatan dan Pendidikan di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Rabu (10/11).

”Di antara beberapa gangguan penglihatan tersebut, katarak merupakan penyebab utama di Indonesia yang diderita separuh dari 4 juta orang dewasa dan anak-anak. Karena itu, masalah sakit mata adalah masalah sosial,” ungkap Menkes.

Karena 80 persen dari penyebab kebutaan, termasuk katarak, dapat disembuhkan, masalah yang dihadapi saat ini adalah bagaimana membantu sebagian besar perawatan dan operasi katarak masyarakat yang kurang mampu.

Menkes mengapresiasi kehadiran filantropis Gerakan Matahati yang sejak beberapa tahun lalu ikut mengusahakan sebagian besar bantuan operasi katarak dari donasi berbagai pihak.

Ketua Persatuan Dokter Ahli Mata (Perdami) Nila Moeloek menyatakan, keterlibatan dokter-dokter mata dalam Gerakan Matahati berupa pemeriksaan dan operasi mata dengan cuma-cuma. ”Itulah balas jasa kami kepada rakyat,” ungkap dr Nila Moeloek.

Pandji Wisaksana, Ketua Pembina Yayasan Lions Indonesia, salah satu penyelenggara turnamen dan penasihat Gerakan Matahati, menambahkan, sudah lebih dari 5.000 operasi katarak dilakukan Gerakan Matahati. Pada 2011, ditargetkan bisa mencapai 10.000 operasi. Dana yang terkumpul dari acara yang diikuti lebih dari 100 pegolf itu disumbangkan untuk Gerakan Matahati dan korban Merapi. (STS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau