Pendatang yang Tak Mau Jadi Anggota Adat

Kompas.com - 12/11/2010, 07:15 WIB

SINGARAJA, KOMPAS.com--Sejumlah tokoh di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Kamis menggelar rapat khusus untuk menyikapi adanya penduduk pendatang yang menetap di desa itu, namun tidak masuk menjadi anggota adat.

"Kelian" atau Kepala Adat Desa Lemukih Jro Nyarik Gede Widarta mengatakan, rapat tersebut digelar terkait dengan permintaan jaminan keamanan sejumlah desa atas keberadaan warga mereka di desanya.

"Untuk itu, kami tawarkan warga luar untuk masuk adat di Desa Lemukih dengan memenuhi kewajiban administrasinya, seperti membayar ’penanjung batu’ atau iuran pangkal untuk menjadi anggota masyarakat adat dan dibayar sekali saja saat bergabung," ujar Widarta.

Sebelumnya, terdapat sejumlah warga yang dikeluarkan dari adat setelah permasalahan sengketa tanah yang berlangsung antara kubu adat dengan masyarakat pemegang sertifikat atas sejumlah lahan yang diklaim milik adat Lemukih.

Dari keterangan Widarta, terdapat 65 kepala keluarga yang tercatat sebagai warga pendatang bukan asal Desa Lemukih yang tinggalnya tersebar di lima dusun, masing-masing Dusun Lemaya, Dusun Buah Banjah, Dusun Nyuh, Dusun Nangka, dan Dusun Desa.

Dari total jumlah pendatang tersebut, ada 16 kepala keluarga yang belum menjadi anggota adat serta bermasalah terkait dengan konflik sengketa tanah dan belakangan ini menimbulkan sejumlah aksi pembakaran rumah.

"Dari 16 KK, hanya tujuh yang memegang sertifikat, sementara sisanya hanya ikut-ikutan terkait adanya hubungan kedekatan keluarga," ujarnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung dengan seluruh tokoh, baik dinas maupun adat Desa Lemukih, muncul sejumlah permasalahan terkait besarnya uang "penanjung batu" yang harus disetorkan.

Berdasarkan adat di Desa Lemukih, uang "penanjung batu" yang harus disetorkan sejumlah Rp550 ribu dinilai sulit untuk dipenuhi.

"Tapi kami sudah berikan kebijaksanaan serta kelonggaran agar uang tersebut bisa dicicil pembayaranya melalui Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Lemukih," kata Widarta.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Sawan Nyoman Astasemadi menyambut baik hasil pertemuan yang dilangsungkan para tokoh adat Desa Lemukih dan mengharap dengan itu bisa mengembalikan kondisi keamanan di kawasan konflik tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau