KOMPAS.com - Sejumlah perempuan terlihat sibuk memasak di dapur milik Ciptanto (66), warga Dusun Mungkid, Desa Mungkid, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Rabu (10/11) siang. Beberapa perempuan menyiapkan bumbu, sebagian lainnya menggoreng bahan makanan yang sudah dipotong-potong para ibu lainnya.
Meskipun harus berimpit-impitan pada dapur yang tidak begitu luas, tak terdengar keluhan dari mereka. Ibu-ibu itu terlihat tulus memasak untuk makan siang mereka dan para pengungsi lainnya. ”Kami masak tiga kali sehari. Yang bertugas utama memasak enam orang, tetapi yang lain ikut membantu juga,” tutur Sarjinah (50), warga pengungsi di rumah Ciptanto. Setiap kali masak, mereka menghabiskan sekitar 15 kilogram beras.
Ibu-ibu tersebut merupakan warga Dusun Kwilet, Desa Ketunggeng, Kecamatan Dukun. Mereka tinggal di rumah pengungsian milik Ciptanto sejak Jumat pekan lalu. Dusun mereka yang berjarak sekitar 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi porak-poranda. Jumlah pengungsi yang ada di rumah tersebut 221 orang.
Pengungsi yang tinggal di rumah tersebut secara swadaya menghidupi diri sendiri. Ibu-ibu bertugas memasak, mencuci piring, dan pakaian, serta mengurus anak balita. Para remaja dan pemuda menjaga dan mengajari anak-anak agar tidak bosan karena tak bisa bersekolah.
Sementara, bapak-bapak bergabung dengan posko penanganan bencana di Dusun Mungkid, berusaha mencari bantuan logistik kepada teman dan instansi-instansi lain. Mereka juga membuat kamar mandi sementara dan membersihkan lingkungan pengungsian.
Pembantu Koordinator Lapangan Posko Bencana Dusun Mungkid, Agus Sarjumianto, mengatakan, jumlah pos pengungsi di wilayah Dusun Mungkid sebanyak 15 pos, termasuk pos pengungsian di rumah Ciptanto. Jumlah pengungsi pada 15 pos itu sekitar 753 orang.
”Kebanyakan lokasi pengungsian memang di rumah warga. Tetapi ada juga yang di gereja, balai desa, dan tempat pendidikan agama Islam,” katanya.
Posko pengungsian di rumah warga disediakan secara sukarela oleh pemiliknya. Sebagian lainnya merupakan rumah kosong.
Selama ini, lanjut Agus, pos pengungsian di wilayah Dusun Mungkid belum pernah mendapatkan bantuan logistik dari pemerintah. Bantuan hanya dari organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan instansi-instansi swasta. ”Yang atas nama pemerintah belum ada, baru pendataan saja,” ujarnya.
Meskipun belum mendapatkan bantuan pemerintah, kebutuhan logistik para pengungsi di wilayah itu terpenuhi. Hanya saja, terdapat beberapa kebutuhan yang masih kurang, antara lain termos air hangat, pakaian dalam pria, dan obat-obatan ringan, serta peralatan dapur bagi pengungsi baru.
Menurut Sarjinah, kesamaan nasib berada di lokasi pengungsian, menjadikan hubungan warga yang berasal dari satu dusun tersebut semakin erat. Sarjinah dan ibu-ibu lainnya mengaku tidak kesulitan untuk bekerja sama di lokasi penampungan, karena mereka biasa bergotong-royong di dusunnya.
Meski sering tebersit rasa khawatir akan nasib masa depan setelah keluar dari pengungsian, mereka tetap berusaha tegar dan mencoba menjalani kehidupan di pengungsian secara ikhlas. ”Kalau bareng-bareng begini ada rasa senang,” kata Darsini (42), pengungsi lainnya.
Kepala Dusun Kwilet I, Desa Ketunggeng, Kasmuri, menuturkan, kebersamaanlah yang tetap menyatukan mereka. Bahkan, mereka mengungsi juga secara mandiri dengan menggunakan mobil milik seorang warga setempat, Suripto. Mereka berharap, dengan kebersamaan itu mereka bisa kembali menata hidup di kampung halaman, apabila Gunung Merapi sudah tidak bergejolak lagi.