Kasus gayus

Asal Uang Suap Belum Diketahui

Kompas.com - 12/11/2010, 15:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Baik polisi maupun Komisaris Iwan Siswanto tak tahu dari mana asal uang suap yang dibayarkan Gayus Tambunan kepada sembilan polisi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Dugaan bahwa istri Gayus yang mengantarkan uang suap belum bisa dibuktikan.

"Istri Gayus tidak pernah mengantarkan, langsung dari Gayus sendiri, kami tidak tahu asalnya uang dari mana," kata Berlin Pandiangan, pengacara Komisaris Iwan Siswanto, kepada wartawan di Bareskrim Mabes Polri, Jumat (12/11/2010).

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan mengatakan belum mengetahui dari mana Gayus membayar polisi petugas Rutan. "Siapa yang memasok uang untuk suap anggota akan kita selidiki. Mungkin dari istrinya atau siapa nanti kita selidiki," tambah Iskandar.

Seperti diberitakan, Komisaris Iwan Siswanto mengakui, dirinya menerima uang suap sebesar Rp 368 juta. Perincian suap yang Iwan terima adalah dari bulan Juli-Agustus, Iwan terima Rp 50 juta setiap bulan, per minggunya sebanyak Rp 5 juta.

Pembayaran berbeda diterima Iwan untuk bulan September-Oktober. Iwan menerima suap tiap bulan sebesar Rp 100 juta, sedangkan pembayaran untuk per minggunya lebih kecil, yakni Rp 3,5 juta. (Natalia Ririh)
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau