Tahanan Kabur Saat Gempa Guncang Bantul

Kompas.com - 12/11/2010, 17:03 WIB

BANTUL, KOMPAS.com — Gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Bantul, Selasa (9/11/2010), ternyata membuat seorang tahanan kabur saat berada di Pengadilan Negeri Bantul. Sampai sekarang, tahanan kasus penipuan tersebut belum juga ditemukan.

Mardi, pengawal tahanan Kejaksaan Negeri Bantul, Jumat (12/11/2010), menceritakan bahwa kejadian tersebut berawal ketika si tahanan, yakni Agus, minta izin untuk sembahyang di mushala. "Saat itu saya tengah di ruang sidang. Agus dikawal oleh teman saya. Saat gempa terjadi, situasi menjadi panik karena banyak orang berlarian keluar gedung untuk menyelamatkan diri. Saat itulah Agus memanfaatkannya untuk kabur," katanya.

Menurutnya, petugas sudah berusaha mengejarnya. Namun, jejak Agus tidak ditemukan. Sampai saat ini petugas belum juga mencium keberadaan Agus. Ini adalah kali pertama seorang tahanan bisa kabur saat berada di pengadilan untuk menjalani persidangan.

Pada Selasa lalu, pengawal membawa 20 tahanan milik kejaksaan. Mereka diantar ke Pengadilan Negeri Bantul untuk menjalani persidangan. Selama menunggu jadwal sidang, tahanan ditempatkan di sel. Mereka hanya diperbolehkan keluar untuk izin ke toilet dan melakukan ibadah shalat. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau