YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 11.099 ternak di kawasan Gunung Merapi, yaitu Kecamatan Turi, Cangkringan, dan Pakem, Kabupaten Sleman, belum berhasil diidentifikasi pasca-letusan Gunung Merapi pada 26 Oktober dan 5 November 2010.
"Sebanyak 11.099 ternak sapi, kambing, dan domba hingga Kamis malam belum dapat diidentifikasi," kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi DIY Nanang Suwandi di Yogyakarta, Jumat (12/11/2010).
Hingga kemarin malam, Dispertan DIY baru berhasil mendata jumlah ternak mati, yaitu sebanyak 1.548 ekor dan ternak yang berhasil dievakuasi dari kawasan rawan bencana sebanyak 1.358 ekor.
"Jumlah populasi awal ternak di tiga kecamatan rawan bencana sebanyak 13.005 ekor. Jumlah terbanyak ada di Pakem, yaitu 5.367, Cangkringan 4.621, dan Turi 3.017 ekor," katanya.
Ternak yang berhasil dievakuasi ditampung di 31 titik penampungan. Di antaranya di Youth Center, Maguwoharjo, dan Lapangan Fakultas Peternakan UGM.
"Persediaan hijauan pakan ternak hanya cukup untuk 10 hari ke depan. Untungnya bantuan pakan dari luar Yogyakarta terus mengalir. Hari ini datang lima ton pakan dari Baturaden," katanya.
Selain itu, menurut dia, produksi susu sapi di Kabupaten Sleman juga menurun drastis hingga lebih dari 50 persen.
"Misalnya dua koperasi susu perah binaan Dispertan DIY, Sarana Makmur dan Warga Mulia, masing-masing hanya mampu menyetor sekitar 1.000 dan 2.000 liter susu sapi per hari. Anjlok 50 persen dibanding saat normal. Koperasi lain pun juga begitu," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang