TULUNGAGUNG, KOMPAS.com — Belasan kafe yang beroperasi di Kabupaten Tulungagung, Jatim, diduga mempekerjakan pramusaji anak di bawah umur.
Berdasarkan pantauan di sejumlah warung malam dan tempat hiburan malam, Jumat (12/11/2010), para pekerja anak itu rata-rata masih duduk di bangku SMA.
Mereka bekerja seusai pulang sekolah hingga larut malam, sekitar pukul 21.00 WIB.
"Hampir semua kafe mempekerjakan anak di bawah umur, terutama yang kelas menengah ke bawah," kata Vi (15), pekerja anak di salah satu warung malam di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung.
Selain dia, di kafe tersebut juga terdapat seorang gadis berusia sekitar 14 tahun yang bekerja sebagai pramusaji.
Tugas mereka melayani setiap pesanan tamu atau pelanggan yang datang, sekaligus menemaninya jika ada permintaan khusus.
Pemandangan itu tidak hanya terlihat di kafe tempat Vi dan rekannya yang masih duduk di bangku kelas I SMA itu bekerja. Sejumlah tempat hiburan malam lain juga melakukan hal serupa.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung Winny Isnaini membenarkan sinyalemen tersebut.
"Ini memang fenomena masalah yang menjadi prioritas LPA sejak dua tahun terakhir," ujarnya.
Dikatakan Winny, jumlah pekerja anak di Kabupaten Tulungagung berdasarkan hasil survei LPA tahun 2008, tercatat mencapai 1.839 orang.
Angka tersebut saat ini diperkirakan telah menembus angka 2.000 orang.
Mereka tersebar di hampir semua kecamatan dan salah satu yang terbesar ditemukan di pusat kota atau Kecamatan Tulungagung, Kedungwaru, dan Boyolangu, dengan latar belakang kasus pekerja anak di sejumlah warung remang-remang serta kafe atau tempat hiburan malam.
Berdasarkan data sementara, diketahui pekerja anak di Tulunggagung lebih didominasi kelompok lulusan SMP, yakni mencapai 727 orang.
Disusul kelompok berlatar lulusan SD yang sementara ini telah tercatat sebanyak 684 anak dengan usia berkisar antara 12-17 tahun.
"Sisanya yang berjumlah sekitar 428 anak merupakan lulusan SMA/SMK," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang