Ibadah haji

Jaga Kondisi Fisik Menjelang Wukuf

Kompas.com - 13/11/2010, 02:50 WIB

Mekkah, Kompas - Menjelang puncak ibadah haji beberapa hari lagi, jemaah yang kini sudah berada di Mekkah, Arab Saudi, diimbau menjaga kondisi fisik agar tetap fit. Jemaah akan melakukan wukuf di Arafah pada 15 November 2010 dan kemudian dilanjutkan dengan tinggal di Mina beberapa hari.

”Wukuf adalah inti haji. Kami imbau jemaah menjaga kondisi fisik agar bisa datang ke Arafah,” ujar Menteri Agama yang juga Amirul Haj, Suryadharma Ali, di Mekkah, sebagaimana dilaporkan Media Centre Haji Kementerian Agama, Jumat (12/11).

Salah satu titik yang paling mengkhawatirkan adalah saat jemaah melontar jumrah di Jamarat, Mina. Jutaan anggota jemaah biasanya berdesak-desakan saat hendak melontar jumrah. ”Kami evaluasi titik kritis berada di Jamarat,” kata Wakil Kepala Satuan Tugas Mina Kasmudi Ihsanudin Salam di Mekkah, Kamis.

Untuk itu, petugas haji disiapkan untuk membantu jemaah agar tidak terjadi peristiwa yang membahayakan. ”Persiapan sudah kami lakukan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama A Ghofur Djawahir, Jumat.

Sejak Kamis pukul 14.00 waktu Mekkah, layanan transportasi jemaah haji dari maktab ke Masjidil Haram atau sebaliknya dihentikan sementara. Sebab, kata Wakil Kepala Daerah Kerja Mekkah Bidang Transportasi Tatan Rustandi, bus-bus itu dipersiapkan untuk mengangkut jemaah yang hendak wukuf ke Arafah.

”Kami telah melakukan sosialisasi kepada jemaah,” ujar Tatan. Penghentian sementara layanan transportasi tersebut akan diberlakukan hingga tanggal 20 November 2010.

Haji nonkuota

Hingga kemarin, jemaah haji nonkuota asal Indonesia yang tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, berjumlah 3.113 orang. Pada musim haji tahun lalu (2009), jumlah jemaah nonkuota sekitar 3.000 orang. Menurut Kepala Daerah Kerja Jeddah Ahda Barori, ribuan anggota jemaah nonkuota itu diberangkatkan oleh 47 kelompok bimbingan ibadah haji. ”Angka itu baru yang dapat kami data,” ujarnya.

Jemaah nonkuota membuat petugas haji repot. Beberapa di antara mereka menemui kesulitan, seperti soal angkutan dari bandara ke Mekkah atau pondokan yang kurang layak. ”Tetapi, bagaimanapun, mereka tetap kami urus,” kata Ghofur.

Menurut Ghofur, jemaah haji nonkuota juga menemui kendala saat di Tanah Air. ”Saya banyak mendapat informasi, banyak anggota jemaah yang tidak bisa berangkat. Bahkan, ada yang menelepon mengapa pemerintah tidak mengurus mereka,” katanya. Padahal, jemaah nonkuota itu tidak melalui jalur resmi. (SSD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau