Yogyakarta

Desa Budaya Berpotensi Jadi Obyek Wisata

Kompas.com - 13/11/2010, 10:39 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Desa budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah cukup banyak berpotensi menjadi obyek wisata yang layak dijual kepada wisatawan jika dikembangkan dengan baik, kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utaminingsih.

"Desa budaya merupakan desa yang masyarakatnya masih memiliki dan melestarikan kehidupan budaya serta memegang kuat adat-istiadat. Desa seperti ini bisa dijadikan paket kunjungan wisatawan mancanegara ataupun Nusantara," katanya di Yogyakarta, Sabtu (13/11/2010).

Dia mengatakan, DIY menyimpan banyak desa budaya, tetapi untuk menjadi desa budaya yang layak dijual kepada wisatawan harus diseleksi dan dibenahi terlebih dahulu.

"Untuk mewujudkan desa budaya perlu dipilih satu atau dua desa budaya sebagai percontohan yang dikemas dalam paket wisata sehingga tumbuh desa budaya lain," kata Widi yang yayasannya bergerak di bidang studi pengembangan budaya dan pariwisata berbasis potensi lokal.

Menurut dia, kriteria desa budaya yang layak jual adalah kondisi masyarakatnya masih memegang budaya dan adat tradisi setempat, memiliki atraksi seni budaya, arsitektur rumah masih asli pedesaan, dan terletak di kawasan yang bernuansa alam pedesaan.

Wisatawan saat mengunjungi desa budaya diharapkan menginap di rumah penduduk selama beberapa hari agar mereka bisa menikmati kehidupan warga desa yang masih asli, mulai saat bangun pagi hingga malam hari menjelang tidur.

"Wisatawan bisa ikut petani bekerja membajak sawah atau ikut mengerjakan usaha kerajinan warga setempat. Bisa menikmati makanan seperti yang dikonsumsi warga desa itu. Sedangkan pada malam hari, wisatawan disuguhi atraksi kesenian tradisional setempat," katanya.

Ia mengatakan optimistis jika desa budaya dikemas dalam paket wisata yang baik dan menarik akan diminati wisatawan, sehingga mereka berkunjung dan menginap di desa itu.

Desa budaya di DIY dinilai lebih spesifik karena daerah lain tidak memiliki seperti yang dimiliki daerah ini. Karena itu, kegiatan festival desa budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY merupakan langkah positif mempromosikan desa wisata sekaligus melestarikan adat istiadat dan budaya desa setempat.

"Desa budaya yang ditonjolkan adalah sisi potensi kehidupan budaya yang dimiliki warga setempat, sedangkan desa wisata yang dikedepankan adalah suasana alam pedesaan dan kehidupan warganya yang masih tradisional," katanya.

"Jika desa budaya sudah terwujud, maka para pelaku usaha wisata di daerah ini tinggal menindaklanjuti dengan mempromosikannya, baik di dalam maupun luar negeri," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau