200.000 Orang Terancam Kolera di Haiti

Kompas.com - 13/11/2010, 12:05 WIB

JENEWA, KOMPAS.com - Sebanyak 200.000 warga Haiti dikhawatirkan terserang kolera saat wabah itu, yang sudah menewaskan 800 orang, diperkirakan menyebar ke seluruh negara Karibia yang porak-poranda tersebut, kata PBB, Jumat. Total populasi negara itu  hampir 10 juta orang.

Jumlah korban bisa jadi dua kali lipat dari 100.000 kasus selama wabah kolera parah di Zimbabwe antara Agustus 2008 dan Juli 2009, yang menewaskan 4.287 orang. Sebagian perkiraan PBB mengenai jumlah kasus tersebut di Haiti dilandasi jumlah korban jiwa di Zimbabwe.

Di dalam rencana strategi yang dirancang bersama pemerintah Haiti dan lembaga bantuan, PBB menyatakan Haiti memerlukan 163,9 juta dollar AS dalam bentuk bantuan selama tahun depan guna memerangi wabah itu, wabah kolera pertama dalam satu abad. Kolera juga dapat menyebar ke tetangga Haiti, Republik Dominika, katanya.

"Strategi itu memperkirakan sebanyak 200.000 orang akan memperlihatkan gejala kolera mulai dari kasus diare ringan sampai dehidrasi paling parah," kata Elizabeth Byrs dari Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada pidato di Jenewa, Jumat. "Berbagai kasus diperkirakan muncul dalam penyebaran wabah yang akan terjadi secara tiba-tiba di berbagai bagian negeri ini," katanya.

Korban jiwa dari wabah tersebut naik jadi 800, Kamis (11/11) dan sedikitnya 11.125 pasien telah dirawat di rumah sakit sejak wabah itu mulai terjadi lebih dari tiga pekan lalu. "Angka kematian tak meningkat tapi itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan biasanya, 6 sampai 7 persen. Itu mestinya jauh lebih sedikit," kata jurubicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Wabah di Haiti bertambah parah oleh banjir akibat Topan Tomas pada awal November dan menambah parah kondisi kemanusiaan setelah gempa bumi kuat pada Januari. Lebih dari 250.000 tewas dalam bencana Januari tersebut. Gempa itu membuat sebanyak 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal, dan kondisi hidup di negara paling miskin di bumi belahan barat tersebut membuat rakyat sangat rentan terhadap penyakit itu, yang menyebar di makanan dan air kotor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau