Peninggalan Megalitik Itu

Kompas.com - 13/11/2010, 13:42 WIB

Oleh Rini Kustiasih

Situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, disebut-sebut sebagai kompleks megalitik terbesar di Asia Tenggara. Dengan luas 4.000 meter persegi, selain menjadi kawasan pendidikan, peninggalan prasejarah itu juga berpotensi dikembangkan sebagai lokasi wisata. Sayang, pengelolaan situs itu terkesan seadanya. 

MUntuk menuju lokasi situs yang terletak sekitar 50 kilometer barat daya Cianjur itu, wisatawan harus melintasi jalan akses yang rusak, bahkan sebagian masih berupa jalan berbatu tajam. Jalan rusak dirasakan sejak pertama kali memasuki akses menuju Gunung Padang, yakni melalui Warungkondang, jika wisatawan berangkat dari Cianjur. Kondisi jalan beraspal yang baik dirasakan setelah tiba di Lampegan.

Namun, sekitar 2 kilometer menuju lokasi situs atau setelah memasuki Desa Karyamukti, wisatawan harus melintasi jalan kampung yang sempit dan berbatu tajam. Ketegangan saat melintasi jalan itu tak ayal membuyarkan kesenangan wisatawan yang sebelumnya menikmati hawa sejuk perkebunan teh, sekitar 8 km menuju situs.

Di lokasi situs ada 10 petugas yang berjaga bergantian. Mereka rata-rata lulusan SMP. Dadi (48), petugas yang merangkap juru kunci situs, cuma lulusan SD. Meski demikian, petugas yang diangkat oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang itu antusias berbagi informasi soal Gunung Padang. Sayang, pengetahuan arkeologi dan kesejarahan Dadi masih kurang. Ia lebih banyak bercerita soal mitos warga sekitar dan kegemaran pengunjung berziarah di situs itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di kompleks itu, Jumat (12/11), Dadi langsung menunjukkan mata air yang umurnya setua situs tersebut. ”Warga mengambil air dari sini juga,” ujarnya.

Untuk menuju bagian atas bukit, yang merupakan kompleks utama Gunung Padang, wisatawan harus menaiki 378 anak tangga yang disusun dari balok-balok batu andesit. Saat sampai di atas, wisatawan sudah pasti terperangah melihat jajaran batu yang berdiri dan rebah tersebar di mana-mana. Tak terbayang sebelumnya, Indonesia memiliki peninggalan arkeologi sedemikian dahsyat.

Lima tingkat

Dibangun sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi, situs itu berundak sampai lima tingkat pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Kompleks itu menghadap ke arah Gunung Gede. Semakin ke atas, pelataran situs batu itu semakin sempit. Namun, setiap teras memiliki ciri serupa, yakni terdapat kolom-kolom batu yang bentuknya seperti ruangan-ruangan. Pada beberapa bagian ditemui gundukan tanah dan balok-balok batu berdiri di sekelilingnya atau rebah di atasnya.

Pada 1914 arkeolog Belanda, NJ Kroom, pernah meneliti situs itu dan menduga kawasan itu sebagai pekuburan prasejarah lantaran ditemui gundukan tanah di beberapa bagian. Namun, dugaan ini tidak sepenuhnya disetujui arkeolog lain yang menduga kawasan ini adalah tempat peribadatan.

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar, mengatakan, karena berundak, kuat dugaan situs batu itu adalah lokasi pemujaan. ”Semakin ke atas, tingkat kesuciannya semakin tinggi,” katanya.

Dugaan itu diperkuat dengan melihat orientasi kompleks yang menghadap ke Gunung Gede. Lazim diketahui, gunung pada masa lalu dianggap sakral karena ketinggian dan keindahannya. Konsep serupa, menurut Bachtiar, juga dianut manusia prasejarah di Jawa Barat.

Terlepas dari perbedaan pendapat soal fungsi situs, ada baiknya pemerintah daerah lebih memerhatikan pengelolaan situs. Di sana semestinya ditempatkan petugas yang menguasai informasi kesejarahan dan arkeologi kawasan itu. Perbaikan jalan akses tentu juga menjadi keharusan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau