Aktivitas Merapi Kacaukan Harga Pasir

Kompas.com - 13/11/2010, 14:58 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Harga pasir di Yogyakarta tidak stabil akibat banyaknya pasir menyusul letusan Merapi beberapa waktu lalu. Demikian disampaikan pemilik toko bahan bangunan, Nur Hadi Djatmiko (30), Sabtu (13/
11/2010).

Dikatakan Nur, dalam keadaan normal, ia membeli pasir seharga Rp 80.000 per satu meter kubik dan menjualnya dengan harga Rp 100.000. Namun, dengan keadaan sekarang, harga ditentukan melalui tawar-menawar.

"Kalau normal, satu meter kubik saya beli Rp 80.000. Saya bisa jual lebih mahal, bergantung jarak antar. Pokoknya, saya ambil untung Rp 20.000," ujar Nur.

"Sekarang ini harganya kacau. Saya tak bisa sebut harga. Harga ditentukan melalui tawar-menawar. Nilainya variatif," tambahnya.

Dikatakan juga, harga pasir juga ditentukan oleh kualitas. Pasir yang berasal dari wilayah hulu lebih bagus ketimbang pasir di sekitar hilir. "Itu juga yang membuat harga kacau. Pasir yang banyak sekarang itu berasal dari hilir. Sementara yang di hulu jarang sekali karena penggali masih takut menggali. Sudah banyak yang menawari, tetapi saya belum berani ambil," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau