Dalam perjalanan karier profesional Federer, dia tidak pernah berhasil lolos dari perempat final pada turnamen indoor di Paris itu sehingga dia menyebut turnamen tersebut sebagai ”turnamen terburuk” baginya.
Tiga kali Federer berhasil mencapai delapan besar, tetapi selalu gagal menembus semifinal. Oleh karena itu, keberhasilan menembus semifinal kali ini menjadi catatan prestasi tersendiri bagi Federer.
”Saya tidak akan mengatakan ini sebuah kelegaan karena itu adalah sesuatu yang lain. Tetapi, saya bergembira bisa di semifinal. Saya tahu ini akan sulit karena pada awalnya saya hanya mempunyai satu jam untuk berlatih di sini. Sekarang, saya merasa enak sekali dan tidak terlalu lelah,” ungkapnya.
Federer, yang secara keseluruhan melepaskan 18 pukulan as dan 33 pukulan winner, hanya membutuhkan 71 menit untuk menyudahi pertarungan melawan Melzer.
Pada semifinal, petenis Swiss itu akan menghadapi petenis tuan rumah, Gael Monfils, yang tampil pantang menyerah saat menundukkan unggulan ketiga, Andy Murray, 6-2, 2-6, 6-3.
Pertarungan Federer-Monfils adalah pertemuan mereka keenam kalinya. Pada lima pertemuan sebelumnya, Federer selalu menang atas Monfils. Pertemuan terakhir mereka adalah di Grand Slam Perancis Terbuka 2009, di babak perempat final.
Keunggulan Monfils atas Murray sejak set pertama langsung terlihat seiring dengan penampilan petenis Inggris itu yang tidak meyakinkan dengan banyak membuat kesalahan.
Pada set kedua, petenis peringkat keempat dunia itu mulai menunjukkan kelasnya sehingga berbalik menguasai set tersebut. Akan tetapi, usaha keras Murray di set kedua itu harus dibayar dengan menurun drastisnya staminanya di set ketiga.
Petenis Inggris itu mengungkapkan, dia baru bisa tidur sekitar pukul 03.00 atau hanya beberapa jam sebelum bertarung melawan Monfils. ”Tentu saja itu bukan persiapan ideal,” ujarnya.
Semifinalis lainnya, Michael Llodra, yang menembus babak empat besar itu setelah menumbangkan petenis Rusia, Nikolay Davydenko, 7-5, 6-1, akhirnya harus mengakui keunggulan petenis Swedia, Robin Soderling.
Pada pertarungan itu, Llodra mampu merebut set pertama dalam pertarungan sangat ketat yang ditutup dengan tie-break, 7-6. Akan tetapi, di set kedua, stamina Llodra mulai menurun dan dimanfaatkan Soderling untuk memenangi set itu, 7-5.
Baik Llodra maupun Soderling yang sama-sama mengandalkan servis keras, dengan kecepatan di atas 200 km per jam, kembali bertarung sangat ketat di set ketiga. Dukungan penonton yang begitu besar membuat Llodra mampu terus bertahan meski staminanya terlihat lebih buruk ketimbang Soderling.
Llodra sempat memimpin 6-5, tetapi Soderling pun kemudian menggunakan servisnya sebagai senjata andalan. Pada gim kritis ini, Llodra mampu menciptakan deuce yang terus bertahan hingga 14 menit sebelum akhirnya Soderling mampu memenanginya hingga terjadi tie-break. Pertarungan tie-break yang juga berlangsung ketat akhirnya dimenangi Soderling, 8-6.