Untirta Kembangkan Kesenian Banten

Kompas.com - 14/11/2010, 10:07 WIB

SERANG, KOMPAS.com — Paguyuban Seni dan Budaya Tradisional Mahasiswa Untirta atau Pandawa tengah mengembangkan kesenian dari Provinsi Banten dengan tari Ahlan Wasahlan.

"Debus dan Rampak Bedug merupakan kesenian Banten yang sudah terkenal, namun di Untirta, kita bisa menemukan jawaban lain yang disebut tari Ahlan Wasahlan," kata Rizal Awali, selaku Ketua Pandawa, ketika ditemui di Serang, Sabtu (13/11/2010).

Pasangan suami istri Beni Kusnandar dan Wiwin Purwinarti, pemilik sanggar Wanda Banten, merupakan pencipta tarian ini.

Tarian Ahlan Wasahlan, seperti namanya, adalah tarian untuk menyambut tamu. "Tarian ini dikembangkan dan dijadikan pengantar bagi kegiatan-kegiatan di kampus," kata Rizal.

Tarian tersebut juga dipentaskan dalam pembukaan bedah buku "Banten Bangkit" berjudul Habis Gelap, Terbitkah Terang? di Auditorium Untirta.

"Saya berharap tarian Ahlan Wasahlan ini terus berkembang sehingga tidak hanya mewarnai kegiatan di Untirta saja, tapi juga seluruh Banten," kata Rizal.

Sementara itu, Gandung Ismanto menilai bahwa tarian tersebut merupakan ucapan selamat datang kepada Banten yang lebih terang.

Kesenian Banten perlu terus dikembangkan melalui kreativitas seniman daerah itu dalam menjadikan budaya sebagai satu bentuk daya tarik wisata selain keindahan panorama daerah itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau