Guangzhou, Kompas -
Indonesia ke perempat final setelah Sabtu pekan lalu menggulung India, 3-0. Tanpa diperkuat Sania Mirza, India tidak berdaya menghadapi Lavinia
Menghadapi Thailand yang diperkuat pemain senior Tamarine Tanasugarn, Indonesia menurunkan Ayu yang menempati peringkat ke-449 dunia di partai pertama. Lawan Ayu ialah Noppawan Lertcheewakarn yang menghuni peringkat ke-199.
Disaksikan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi A Mallarangeng serta Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Seluruh Indonesia Martina Widjaja, Ayu dihajar 3-6, 1-6.
Partai berikutnya, Lavinia yang berperingkat ke-337 dunia menghadapi Tamarine, yang baginya, Asian Games sudah tidak asing lagi. Tahun 1998, ia ke final tunggal putri melawan Yayuk Basuki, untuk akhirnya harus mengakui keunggulan Yayuk.
Set pertama diawali dengan kegagalan Lavinia mempertahankan servis di gim pembuka. Dua double fault Lavinia mengantar Tamarine lakukan break.
Tamarine melakukan break kedua kalinya pada gim kelima sehingga memimpin 4-1. Lavinia sebaliknya tidak mampu mematahkan servis lawan. Pergerakan Lavinia selalu dapat ditebak oleh Tamarine. Pukulan Tamarine senantiasa berhasil memanfaatkan celah kosong lapangan sehingga gagal dijangkau Lavinia. Setelah mencetak love game pada gim keenam dan mempertahankan servis pada gim kedelapan, Tamarine memenangi duel, 6-2.
Set kedua berjalan alot. Permainan Lavinia (23) mulai membaik, sedangkan Tamarine (33) mulai kepayahan. Kedua pemain saling mempertahankan servis hingga akhirnya servis Lavinia dipatahkan pada gim ketujuh. Lavinia tidak mampu mendulang satu pun poin di gim ini.
Di bawah terik sinar matahari di lapangan tenis di Pusat Olahraga Aoti, Guangzhou, China, Lavinia akhirya mampu membalas melakukan break di gim kedelapan setelah harus melewati dua kali deuce terlebih dahulu.
Kondisi Tamarine yang semakin kepayahan gagal dimanfaatkan Lavinia. Di gim ke-11, pergerakan Lavinia gampang terbaca dan dua double fault yang dilakukannya membuat Tamarine menambah koleksi break. Tamarine pun memimpin 6-5. Di gim ke-12, keberhasilan Tamarine mempertahankan servis membuat Indonesia tersungkur. ”Kondisinya seperti sudah lelah, tetapi dia tetap tangguh,” kata Lavinia.
Kapten yang bermain (playing captain), Yayuk Basuki, menyebut Thailand memang lebih baik ketimbang Indonesia. Peringkat pemain Thailand lebih bagus daripada Indonesia.
Partai ketiga tetap dilanjutkan. Yayuk yang berpasangan dengan Jessy menghadapi Nudnida Luangnam/Varatchaya Wongteanchai. Indonesia akhirnya gagal mendulang satu pun kemenangan setelah Yayuk/Jessy ditekuk 3-6, 7-5, 5-7.
Indonesia pada masa lalu cukup disegani di cabang tenis Asian Games. Pertama kali meraih emas pada Asian Games 1966 lewat tiga nomor sekaligus, tim tenis Indonesia hingga Asian Games 2002 sudah mengantongi 14 emas. Emas terakhir pada Asian Games 2002 di Busan diraih dari beregu putri (Angelique Widjaja, Wynne Parkusya, Lisa Andriyani, dan Wukirasih Sawondari).
Adapun Yayuk tercatat mengoleksi empat medali emas Asian Games. Ia pertama kali meraihnya dalam Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, saat turun di nomor ganda berpasangan dengan Suzanna Wibowo.