Tenis

Indonesia Tersungkur

Kompas.com - 15/11/2010, 03:31 WIB

Guangzhou, Kompas - Tim tenis Indonesia, Minggu (14/11), tersungkur di kancah Asian Games 2010. Menghadapi Thailand di babak perempat final beregu putri, Ayu Fani Damayanti dan kawan-kawan bertekuk lutut dengan skor telak, 0-3.

Indonesia ke perempat final setelah Sabtu pekan lalu menggulung India, 3-0. Tanpa diperkuat Sania Mirza, India tidak berdaya menghadapi Lavinia Tananta, Ayu, dan ganda Yayuk Basuki/Jessy Rompies. Sania, yang menonton kekalahan timnya dari pinggir lapangan, mengaku tidak bisa bertanding karena sakit sejak beberapa hari sebelum laga.

Menghadapi Thailand yang diperkuat pemain senior Tamarine Tanasugarn, Indonesia menurunkan Ayu yang menempati peringkat ke-449 dunia di partai pertama. Lawan Ayu ialah Noppawan Lertcheewakarn yang menghuni peringkat ke-199.

Disaksikan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi A Mallarangeng serta Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Seluruh Indonesia Martina Widjaja, Ayu dihajar 3-6, 1-6.

Partai berikutnya, Lavinia yang berperingkat ke-337 dunia menghadapi Tamarine, yang baginya, Asian Games sudah tidak asing lagi. Tahun 1998, ia ke final tunggal putri melawan Yayuk Basuki, untuk akhirnya harus mengakui keunggulan Yayuk.

Set pertama diawali dengan kegagalan Lavinia mempertahankan servis di gim pembuka. Dua double fault Lavinia mengantar Tamarine lakukan break.

Tamarine melakukan break kedua kalinya pada gim kelima sehingga memimpin 4-1. Lavinia sebaliknya tidak mampu mematahkan servis lawan. Pergerakan Lavinia selalu dapat ditebak oleh Tamarine. Pukulan Tamarine senantiasa berhasil memanfaatkan celah kosong lapangan sehingga gagal dijangkau Lavinia. Setelah mencetak love game pada gim keenam dan mempertahankan servis pada gim kedelapan, Tamarine memenangi duel, 6-2.

Set kedua berjalan alot. Permainan Lavinia (23) mulai membaik, sedangkan Tamarine (33) mulai kepayahan. Kedua pemain saling mempertahankan servis hingga akhirnya servis Lavinia dipatahkan pada gim ketujuh. Lavinia tidak mampu mendulang satu pun poin di gim ini.

Di bawah terik sinar matahari di lapangan tenis di Pusat Olahraga Aoti, Guangzhou, China, Lavinia akhirya mampu membalas melakukan break di gim kedelapan setelah harus melewati dua kali deuce terlebih dahulu.

Kondisi Tamarine yang semakin kepayahan gagal dimanfaatkan Lavinia. Di gim ke-11, pergerakan Lavinia gampang terbaca dan dua double fault yang dilakukannya membuat Tamarine menambah koleksi break. Tamarine pun memimpin 6-5. Di gim ke-12, keberhasilan Tamarine mempertahankan servis membuat Indonesia tersungkur. ”Kondisinya seperti sudah lelah, tetapi dia tetap tangguh,” kata Lavinia.

Kapten yang bermain (playing captain), Yayuk Basuki, menyebut Thailand memang lebih baik ketimbang Indonesia. Peringkat pemain Thailand lebih bagus daripada Indonesia.

Partai ketiga tetap dilanjutkan. Yayuk yang berpasangan dengan Jessy menghadapi Nudnida Luangnam/Varatchaya Wongteanchai. Indonesia akhirnya gagal mendulang satu pun kemenangan setelah Yayuk/Jessy ditekuk 3-6, 7-5, 5-7.

Indonesia pada masa lalu cukup disegani di cabang tenis Asian Games. Pertama kali meraih emas pada Asian Games 1966 lewat tiga nomor sekaligus, tim tenis Indonesia hingga Asian Games 2002 sudah mengantongi 14 emas. Emas terakhir pada Asian Games 2002 di Busan diraih dari beregu putri (Angelique Widjaja, Wynne Parkusya, Lisa Andriyani, dan Wukirasih Sawondari).

Adapun Yayuk tercatat mengoleksi empat medali emas Asian Games. Ia pertama kali meraihnya dalam Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, saat turun di nomor ganda berpasangan dengan Suzanna Wibowo. (ATO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau