Gunung merapi

Titik Api Diam Merapi Sering Terekam

Kompas.com - 15/11/2010, 09:14 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Titik api diam di puncak Gunung Merapi semakin sering terekam dalam dua hari terakhir, kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono di Yogyakarta, Senin (15/11/2010).

Menurut dia, titik api diam terekam dari dua kamera CCTV yang dipasang di Pos Pengamatan Deles, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, serta Museum Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Titik api diam tersebut dilaporkan dapat diamati saat cuaca di puncak Merapi cerah, yaitu selama sekitar satu jam pada pukul 03.19-04.28 WIB.

Pada Minggu (14/11/2010) titik api diam dapat teramati sepanjang dini hari serta pukul 17.55 hingga pukul 18.00 WIB, dan kamera CCTV dari Deles kembali merekam adanya titik api diam pada pukul 18.50 WIB.

Selain adanya titik api diam, pengamatan visual dari sejumlah pos pengamatan juga terlihat asap putih keabuan hingga kecoklatan dengan tinggi kolom asap 800 meter yang condong ke barat laut.

Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, kata dia, juga tidak lagi mendengar suara gemuruh, tetapi hujan abu masih terjadi di Pos Pengamatan Ketep (Jawa Tengah) sekitar pukul 06.58 WIB.

Berdasarkan data pengamatan aktivitas seismik Gunung Merapi pada Senin pagi dilaporkan terjadi empat kali gempa vulkanik, delapan kali guguran dengan gempa tremor secara beruntun, tetapi tidak disertai luncuran awan panas.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, luncuran awan panas terjauh terjadi di Kali Gendol, yaitu mencapai 14 kilometer, Kali Bebeng (11,5 kilometer), dan Kali Boyong (10 kilometer).

Sementara itu, jarak luncur awan panas ke sungai-sungai lainnya antara lima dan delapan kilometer.

Luncuran awan panas terpendek terjadi di Kali Trising, Kabupaten Magelang, Jateng, sejauh tiga kilometer.

Badan Geologi juga telah mengubah radius rawan bahaya letusan Gunung Merapi untuk tiga kabupaten di Jateng, yaitu Klaten dan Boyolali menjadi 10 kilometer dan Magelang sejauh 15 kilometer, sebelumnya sejauh 20 kilometer.

Adapun untuk Kabupaten Sleman  tetap dipertahankan pada radius 20 kilometer.

Meskipun demikian, Badan Geologi masih memberikan catatan bahwa untuk daerah yang berada dalam jarak 300 meter dari bibir Kali Krasak dan Kali Woro tetap dalam radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi telah memasang alat deteksi dini banjir lahar di tiga sungai yang berhulu di Gunung Merapi, yaitu Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau