Asyik BB-an Bisa Bikin Ambeien

Kompas.com - 15/11/2010, 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena penggunaan ponsel canggih atau smartphone di masyarakat memang sungguh luar biasa.  Gadget mutakhir seperti Blackberry (BB) atau iPhone kini sudah menjadi bagian vital dari kehidupan seseorang sehingga selalu dibawa ke mana pun pergi.

Di balik kemudahan dan kecanggihan yang diberikan kepada penggunanya, gadget-gadget ini kerap mendatangkan risiko dan efek buruk bagi kesehatan. Tak jarang kita  mendengar adanya laporan hasil riset yang mengaitkan efek radiasi ponsel dengan sejumlah penyakit, seperti kanker atau tumor.

Namun, sebuah laporan terbaru di Inggris menyebutkan, penggunaan gadget juga  dapat meningkatkan risiko mengidap penyakit ambien atau haemorrhoid.  Kok bisa?

Rupanya, perilaku penggunaan BB atau iPhone di sana sudah sedemikian akutnya. Gadget-gadget ini  selalu digunakan kapan pun dan di mana pun, termasuk saat pergi ke toilet. 

Fenomena yang sama mungkin juga terjadi di Indonesia.  Berada di toilet untuk buang hajat adalah kesempatan terbaik menggunakan ponsel sehingga penggunanya sering kali menjadi lupa diri karena asyik bermain games, chat, atau BBM-an.

Akan tetapi, perilaku itulah yang kemudian memicu risiko dan membuat kasus ambeien meningkat. Di Inggris, fenomena kasus ambeien ini memunculkan istilah "BlackBerry Bottom".

Survei terbaru di Inggris menunjukkan, 8 dari 10 pengguna smartphone mengaku menggunakan ponsel saat di toilet. Padahal, berlama-lama duduk di toilet dapat menyebabkan risiko wasir menjadi bengkak.

"Duduk di permukaan yang dingin dan keras dalam jangka waktu cukup lama dapat meningkatkan risiko timbulnya haemorrhoid, jadi Anda sebaiknya memainkan Angry Birds (game) di tempat yang lebih nyaman," ujar Stephanie DeGiorgio, dokter dari  wilayah Kent.

Sebuah survei di Inggris menunjukkan, pria cenderung lebih suka bermain game saat berada di toilet, sedangkan wanita justru lebih senang menelepon di tempat ini. Baik pria maupun wanita mengaku kerap membuka Facebook, Twitter, dan e-mail di toilet.

Meskipun demikian, tidak hanya bagian "belakang"  yang terancam mengalami risiko kesehatan akibat penggunaan gadget secara berlebihan ini.  Berikut adalah bagian tubuh lain yang juga mengalami risiko kalau Anda tidak bijak menggunakan ponsel canggih atau smartphone.

Kepala
Para dokter di Amerika Serikat belum lama ini mengidentifikasi suatu gejala yang disebut "ringxiety"—di mana seseorang merasakan dirinya seakan-akan mendengar suara ponsel berbunyi, padahal suara itu tidak pernah ada.  Sebuah riset menyebutkan bahwa lebih dari  60 persen pengguna ponsel menderita gangguan yang juga disebut "phantom ringing" tersebut. 

Telinga
Peneliti di India menemukan, mereka yang mendengarkan musik dari earphone yang terhubung dengan ponsel berisiko ribuan kali lipat mengalami kontaminasi bakteri dalam telinga dibandingkan dengan yang tidak. 

Memakai earphones akan membuat saluran atau rongga telinga menjadi lebih hangat dan lembab sehingga kuman akan lebih mudah berkembang.

Jempol
Gerakan yang berulang-ulang dari jempol dan telunjuk seperti dapat menimbulkan cedera dan otot-otot menjadi tegang. Ini akan memicu  rasa sakit pada jari, jempol, dan sendi-sendi. Para ahli menyarankan  kita agar selalu mengambil rihat  setelah 30 menit memakai ponsel atau alat apa pun.

Kulit
Ponsel juga dapat memicu ruam kulit. Menurut Asosiasi Dermatologi Inggris,  mobile phone dermatitis adalah gangguan pada kulit yang dapat dipicu akibat terlalu lama menggunakan atau menempelkan ponsel pada kulit.

Tangan
Penggunaan berlebihan pada konsol permainan, seperti Wii dan Xbox, bisa menyebabkan  neutrophilic hidradenitis—sejenis lesi berwarna merah pada tangan. Gangguan ini juga disebut PlayStation Pimple. Kondisi ini, menurut British Journal of Dermatology, diakibatkan keringat yang berlebihan karena  memegang handsets.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau