Risiko di Balik Minuman Energi

Kompas.com - 15/11/2010, 16:20 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com — Para penggemar minuman energi sebaiknya lebih berhati-hati memilih produk tersebut di pasaran. Sebuah penelitian menunjukkan, kafein yang terkandung dalam minuman energi bisa jauh lebih tinggi dibanding secangkir kopi. Selain itu, kafein dalam minuman energi juga berpotensi menimbulkan risiko yang lebih besar, khususnya bila dicampur dengan minuman beralkohol.

"Apa yang kita ketahui sekarang, minuman energi bisa mengandung seperempat cangkir gula dan lebih banyak mengandung kafein ketimbang secangkir kopi pekat," ungkap John Higgins, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Texas, Houston, AS, yang memuat risetnya pada jurnal Mayo Clinic Proceedings edisi November.

Kadar kafein dalam minuman energi bisa sangat beragam, yakni antara 70 dan 200 miligram setiap 16 ons penyajiannya. Sebagai perbandingan, secangkir kopi 8 ons mengandung 40-150 mg kafein, tergantung bagaimana kopi itu diseduh.

"Isu lain yang menjadi sorotan adalah tidak semua bahan yang terkandung dalam minuman energi dicantumkan pada label kemasan. Bahan-bahan seperti herbal stimulan guarana, asam amino taurin, serta ramuan, mineral, dan vitamin lainnya yang mungkin dapat berinteraksi dengan kafein luput dari label," ungkap Higgins seperti dilansir Reuters.

Kekhawatirannya adalah, bagaimana bercampurnya bahan-bahan tersebut akan memengaruhi denyut jantung, tekanan darah, dan bahkan kondisi mental, khususnya saat dikonsumsi dalam jumlah besar bersama alkohol atau saat dikonsumsi oleh atlet.

Higgins dan koleganya mengkaji ulang literatur medis mengenai minuman energi dan bahan-bahan pembentuknya antara tahun 1976 dan 2010. Tim Higgins hanya menemukan sedikit saja penelitian mengenai dampak dari hal tersebut.

Beberapa penelitian kecil itu, yang biasanya dilakukan terhadap usia dewasa muda yang aktif dalam kegiatan fisik, menunjukkan bahwa minuman energi dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Namun, bukti tentang adanya dampak lebih serius seperti serangan jantung, kejang, dan kematian masih dianggap sebagai anekdot.

Norwegia, Denmark, dan Perancis belum lama ini melarang peredaran minuman energi Red Bull setelah sebuah penelitian terhadap tikus menunjukkan, "Tikus-tikus yang diberi taurin menunjukkan perilaku aneh seperti gelisah dan bunuh diri."

"Kita bukanlah tikus. Namun, konsumsi minuman tersebut telah menunjukkan hubungan positif dengan perilaku berisiko tinggi," tulis Higgis dan koleganya.

Minuman berenergi kerap dipromosikan dan digunakan oleh atlet untuk mendapat "dorongan ekstra". Namun, Higgins dan timnya menyatakan, minuman energi berisiko menimbulkan dehidrasi serius terhadap penggunanya. Hal itu didasarkan pada cara kafein dan bahan-bahan lain dalam memengaruhi tubuh manusia.

"Air atau minuman olahraga beroktan rendah yang mengandung elektrolit, mineral dan karbohidrat menjadi pilihan yang lebih baik," tambahnya.

Higgins bilang, mereka yang bukan atlet sebaiknya tidak minum lebih dari satu sajian minuman energi per hari, tidak mencampurkannya dengan alkohol, dan minum banyak air setelah berolahraga.

"Mereka yang mengidap hipertensi sebaiknya jangan menenggak minuman energi, dan yang memiliki penyakit seperti penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Aturan terhadap minuman energi dapat menjadi cara jangka panjang untuk mengatasi masalah yang mungkin terjadi," tambah Higgins.

"Industri dapat mencampurkan apa pun dalam minuman itu, membuat iklan semenarik mungkin, dan masyarakat pun dapat mengonsumi apa saja. Namun bila situasi terus berlanjut seperti ini, Anda akan terkena masalah," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau