Perselingkuhan tiger woods

Oow! Uchitel Juga Ketagihan dengan Woods

Kompas.com - 15/11/2010, 17:37 WIB

KOMPAS.com - Kisah cinta terlarang Tiger Woods dengan Rachel Uchitel (serta puluhan wanita) sudah lama terkuak, yang berujung pada perceraian sang bintang golf dengan istrinya, Elin Nordregen. Tetapi sejauh ini tak pernah keluar dari mulut Uchitel, mengapa dia begitu nekat menyelingkuhi suami orang.

Lama tak bersuara, Uchitel akhirnya membeberkan kepada publik mengapa dia mau melakukan perbuatan tak terpuji tersebut. Kepada suratkabar Inggris, Daily Mail, Wanita berusia 35 tahun ini, yang merupakan mantan hostess, mengatakan bahwa dia ketagihan bercinta dengan mantan pegolf nomor satu dunia tersebut. Saat bersamaan, Uchitel mengaku sangat menyesal telah merusak rumah tangga Woods.

"Saya tidak akan pernah melakukan itu lagi," ujarnya, ketika ditanya apakah dia menyesal sudah tidur dengan seorang laki-laki beristri.

Memang, bukan rahasia lagi jika Woods memiliki orientasi seks yang berlebihan sehingga "gemar" ganti pasangan bercinta. Dalam sejumlah petualangannya itu, dia merasa paling puas dengan pelayanan Uchitel, sehingga wanita tersebut menjadi selingkuhan nomor satu. Dan, karena hubungan lengket dengan Uchitel inilah yang membuat Elin tak bisa memaafkan Woods, terutama setelah membaca sebuah pesan tertulisnya (Uchitel).

Setali tiga uang, ternyata Uchitel juga sangat maniak seks. Tak heran jika dirinya dan Woods seperti merasa jodoh untuk urusan seks, sehingga mereka terus melanjutkan hubungan terlarang tersebut.

Uchitel, yang baru saja menyelesaikan film Celebrity Rehab, mengungkapkan itu kepada Daily Mail. Tetapi kini dia menyesal, dan sedang berusaha menghilangkan candu seks tersebut.

"Orang-orang tidak tahu ketagihan cinta. Tetapi saya pikir banyak orang akan berhubungan dengan itu."

Sebelum terjerumus dalam perselingkuhan dengan Woods, sebenarnya Uchitel memiliki kisah cinta yang indah dengan tunangannya, James Andrew O'Grady. Tetapi tragedi 11 September 2001 menghancurkan semua kebahagiaan yang sedang dirajut, karena lelaki pujaannya tersebut tewas dalam pemboman itu.

Ya, Uchitel, yang waktu itu menjadi produser muda untuk berita Bloomberg, pertama kali jadi bahan pemberitaan karena Andy--panggilan tunangannya--meninggal. Setelah itu, dia menjadi frustrasi dan terjebak dalam cinta terlarang dengan Woods.

"Waktu itu kami sedang di mabuk asmara dan saya merupakan wanita paling bahagia di dunia," ujarnya. "Saya juga sedang bertugas sebagai editor untuk Bloomberg News, Andy dan saya sudah membicarakan tentang masa depan kami dan anak-anak. Bersama Andy saya sangat kuat, merasa seperti berdiri di atas sebuah batu yang kokoh, karena dia seorang laki-laki yang hebat, yang tak pernah saya miliki sebelumnya... kemudian, tragedi 11 September terjadi."

Sekarang, Uchitel ingin keluar dari lembah kelam tersebut, dan menghapus semua catatan hitam yang ada dalam buku kehidupannya. Untuk itu, Uchitel mengalihkan fokus pada sekolah master psikologi, di mana dia sedang mendalami ilmu investigasi forensik di Los Angeles. Dia bertekad menyelesaikan program master jurusan psikologi forensik itu selama dua tahun, sebelum kembali ke New York.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau