Warga Bandung Makin Resah

Kompas.com - 16/11/2010, 04:28 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Masyarakat Kota Bandung belakangan ini semakin diresahkan oleh aksi kejahatan di jalan raya yang diduga dilakukan anggota geng motor. Polisi mengantisipasi hal itu dengan mengefektifkan razia di tengah sumber daya personel dan kendaraan yang terbatas.

”Agak berbahaya melintas di jalan ini pada malam hari. Beberapa kali geng motor berulah dengan menjambret pengendara yang melintas. Mungkin karena jalan ini relatif sepi dan gelap. Saya sendiri kalau tidak ada keperluan yang mendesak enggan keluar malam,” kata Hanafi Priyatna (34), warga yang tinggal di sekitar Jalan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Senin (15/11).

Kejahatan yang umumnya terjadi adalah aksi perampasan, baik dengan kekerasan maupun tidak. Berdasarkan data dari Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Bandung, aksi pencurian dengan kekerasan sepanjang tahun 2010 cenderung menurun, tetapi dua tahun sebelumnya terjadi kenaikan. Pada 2008 pencurian dengan kekerasan mencapai 337 kasus. Setahun kemudian angka itu menjadi 420 kasus. Dalam kurun waktu Januari-September 2010 terjadi 297 kasus pencurian dengan kekerasan.

”Dilihat dari angka memang cenderung menurun, tetapi kami memahami jika masyarakat resah dengan kejahatan di jalanan. Mungkin karena kasus geng motor mendapat sorotan media massa. Oleh karena itu, kami berupaya mengoptimalkan patroli di titik-titik rawan dengan kekuatan yang ada,” kata Kepala Subbagian Humas Polrestabes Bandung Komisaris Endang Sri Wahyu Utami.

Kepala Polsektabes Bandung Wetan Komisaris Rudi Trihandoyo mengakui, selain kasus pencurian kendaraan roda dua, kasus pencurian dengan kekerasan menonjol di daerahnya. ”Biasanya kasus itu terjadi di atas pukul 22.00 hingga dini hari dengan korban kebanyakan perempuan remaja dan ibu-ibu, terutama yang mengendarai motor sendirian,” kata Rudi.

Di jalan raya

Selama Oktober 2010 Polsektabes Bandung Wetan menangani 23 kasus pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan roda dua. Sembilan kasus terjadi di jalan raya, lima kasus di permukiman, dan sisanya di tempat lain. Di Polsektabes Astana Anyar, pencurian dengan kekerasan juga termasuk marak terjadi. Namun, polisi enggan buru-buru menuduh pelaku kejahatan tersebut adalah anggota geng motor.

Rudi menjelaskan, pihaknya melakukan patroli 24 jam dengan pembagian petugas sebanyak dua shift. Di beberapa lokasi, patroli dari Polsektabes Bandung Wetan mendapat tambahan pasukan dari Polrestabes Bandung.

Meski demikian, jumlah petugas dan sarana patroli dianggap jauh dari memadai. Kecamatan Bandung Wetan dengan 61.328 warga dilayani oleh 123 petugas Polsektabes Bandung Wetan atau satu petugas berbanding 500 jiwa. Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Astana Anyar. Dengan penduduk 69.877 jiwa, petugas polsektabes hanya 118 orang. Idealnya satu polisi melayani 200 orang.

Seperti disebutkan Endang, polisi berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan sarana yang ada. (HEI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau