YANGON, KOMPAS.com - Pemimpin oposisi Myanmar yang baru saja dibebaskan, Aung San Suu Kyi, siap bertarung demi eksistensi partai politiknya, yang dibubarkan menjelang pemilihan kontroversial negara awal bulan ini, kata pengacaranya, Selasa (16/11).
Pada hari ketiga kebebasan setelah tujuh tahun menjalani tahanan rumah, Suu Kyi menandatangani surat-surat di Mahkamah Agung Yangon. Itu menjadi langkah terbaru dari gugatannya terhadap junta Myanmar soal Liga Nasional bagi Demokrasi (NLD). "Dia siap untuk memperjuangkan keberadaan NLD. Dia akan melanjutkan proses hukum," kata pengacara dan juru bicara NLD, Nyan Win. "Dia pergi ke Mahkamah Agung untuk menandatangani sebuah affidavit karena dia tidak bisa melakukan itu sebelumnya."
Suu Kyi dibebaskan, Sabtu lalu, kurang dari seminggu setelah pemilu yang dikecam secara luas sebagai cara junta melanggengkan kekuasaan, tetapi dikecam para aktivis demokrasi dan pemimpin Barat sebagai sebuah sandiwara. Partai NLD dibubarkan setelah memutuskan untuk memboikot pemilu. Pemboikotan itu merupakan tanggapan terhadap peraturan yang sepertinya dirancang untuk melarang para pembangkang ambil bagian dalam pemilihan.
Suu Kyi, yang ikut mendirikan partai tersebut, sebelumnya gagal mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung yang bertujuan untuk mencegah pembubaran partainya. Pengacaranya mengajukan gugatan kedua pada bulan Oktober, yang bertujuan untuk membatalkan pembubaran, dan sebuah pengadilan di ibukota Naypyidaw harus memutuskan Kamis apakah akan mendengar kasus tersebut. Nyan Win mengatakan, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Suu Kyi, yang telah menjalani hukuman selama 15 dalam 21 tahun terakhir, tidak akan pergi ke ibukota untuk mendengar keputusan tersebut.
NLD didirikan tahun 1988 setelah sebuah pemberontakan rakyat melawan junta militer yang menyebabkan ribuan orang tewas. Dua tahun kemudian, partai tersebut memenangkan pemilihan di negara itu tetapi hasilnya tidak pernah diakui oleh rezim militer yang berkuasa.
Keputusan untuk memboikot pemilu pada 7 November, pemilu pertama Myanmar dalam 20 tahun, sangat memecah pihak oposisi dan beberapa mantan anggota NLD yang memilih ikut dalam pemilihan. Senin lalu, Suu Kyi (65 tahun) dalam sebuah wawancara dengan BBC menyerukan sebuah "revolusi non-kekerasan" di Myanmar, saat ia mulai bertugas untuk membangun kembali partainya yang melemah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang