Mengapa Pria Lajang Menikahi Single Mom?

Kompas.com - 16/11/2010, 16:50 WIB

KOMPAS.com - Tak sedikit pria lajang yang jatuh cinta dengan orangtua tunggal atau single mother. Saat hubungan cinta semakin serius, bahkan menuju jenjang pernikahan, pria cenderung akan mempertimbangkan kembali perasaannya. Kedewasaan lah yang kemudian meyakinkan pria untuk membangun rumah tangga dengan single mom.  

Saat pria memutuskan untuk memilih single mom sebagai pasangan, di sinilah ia belajar mendewasakan dirinya untuk menjadi pria yang lebih matang. Pasalnya, pria juga perlu menerima keadaan bahwa kekasihnya tak lagi sendiri namun juga membawa si buah hati, yang bukan keturunannya.

David Wygant, Dating & Relationship Coach, mengatakan pria yang menikahi single mom cenderung membuka dirinya untuk bersikap dan berpikir lebih dewasa melebihi usianya. Karena pria akan belajar pengalaman baru dari hubungannya dengan perempuan yang juga adalah seorang ibu. Pria lajang juga akan lebih matang karena lebih banyak belajar dari anak yang menjadi bagian penting dari kehidupan kekasihnya.

Bagaimanapun, pria lajang yang terlanjur jatuh cinta dengan single mom memerlukan penyesuaian. Sejumlah hal yang dipertimbangkan pria lajang untuk menikahi orangtua tunggal di antaranya:

Penyesuaian dengan peran ayah
Menjalani peran ayah dari anak yang tidak berhubungan darah tak mudah bagi pria lajang. Namun jika ia tetap bertahan dengan Anda sebagai single mom, artinya ia sepenuhnya memilih Anda sebagai calon pasangan hidup. Hanya saja, pria butuh menyesuaikan diri dengan keadaan yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Menjadi ayah tiri dari anak Anda.

Menyiapkan dirinya
Bagaimanapun pria lajang yang ingin menikahi single mom perlu meyakini keputusannya. Kesiapan mental menjadi bagian penting dari tahapan hubungannya. Meski ia belum juga melamar Anda, meskipun hubungan sudah berlangsung lama, bisa jadi ia sedang memupuk kesiapan dirinya.  

Mencari kesamaan tujuan
Pria lajang membutuhkan waktu untuk mengenali Anda lebih dekat. Ia perlu memastikan seperti apa hubungan yang akan dijalaninya nanti bersama Anda. Kehadiran anak Anda adalah sumber pertimbangan utamanya. Bukan lantas ia tak menerima keberadaan anak Anda, namun ia hanya perlu merasa yakin, bahwa dirinya bisa menjalani peran sebagai ayah dan suami dari perempuan yang dicintainya.

Waktu untuk kontemplasi
Bahkan dengan semua persiapan yang dilakukannya, pria lajang masih membutuhkan waktu untuk kontemplasi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah dengan single mom. Pada masa inilah pria akan memastikan dirinya, apakah siap atau tidak menjalani kehidupan baru yang jauh lebih menantang dengan single mom. Hasil kontemplasinya bisa saja mengakhiri hubungan, karena pada akhirnya ia merasa tak cukup siap dan kuat untuk menerima kondisi bahwa perempuan yang dicintainya adalah seorang ibu. Penyebabnya bukan hanya karena kehadiran anak, tetapi juga ketidaksiapannya dengan peran pasangannya sebagai ibu yang akan menyita banyak waktu daripada kehidupan personalnya.

"Sebenarnya yang dicari single mom adalah sosok pria yang bisa mendampinginya, bukan mencari pengganti peran ayah. Single mom mampu mengemban peran ayah dan ibu. Yang dibutuhkan single mom ketika mencari pasangan adalah sepenuhnya untuk menjadi teman hidupnya," papar Wygant.

Memang dibutuhkan keberanian ekstra serta kematangan berpikir dari pria untuk menikahi single mom. Karakter inilah yang perlu dilihat dari pasangan Anda, jika kondisi saat ini, Anda adalah single mom yang sedang berkencan dengan pria lajang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau