Tahanan keluar sel

Susno Cuma ke Dokter Gigi

Kompas.com - 16/11/2010, 17:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengacara Henry Yosodiningrat menegaskan kembali, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen Susno Duadji, tidak pernah keluar tahanan Markas Komando Brimob selain untuk kepentingan persidangan, memenuhi panggilan Mahkamah Konstitusi, dan berkunjung ke dokter.

Dia juga membantah jika Susno termasuk dari lima orang yang disebutkan Gayus H Tambunan bisa keluar-masuk tahanan. "Selain pergi ke pengadilan, sekali ke Mahkamah Konstitusi, kemudian pelimpahan perkara dari penyidik ke penuntut umum. Dan sekali di luar itu cabut gigi, geraham bawah kanan, kemudian ditunggu," katanya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (16/11/2010).

Saat pergi ke dokter gigi pun, kata Henry, terdakwa dugaan suap penanganan perkara PT Salmah Arowana Lestari itu langsung dibawa kembali ke rutan setelah cabut gigi. "Itu tidak lebih dari 2,5 jam deh, kurang lebih itu. Itu saja. Jadi jangan dengar cerita orang-orang di luar dong," ungkapnya.

Henry juga berpesan agar para pewarta memberitakan perihal keluar-masuknya Susno dari tahanan dengan obyektif. "Kalau mau dengar cerita itu, ya langsung dari si Iwan (mantan Kepala Rutan Mako Brimob) itu. Tanya sama penyidik dia ngomong apa," katanya.

Sebelumnya, mantan Kepala Rumah Tahanan Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok Komisaris Iwan Siswato melalui kuasa hukumnya, Berlin Pandiangan, menyampaikan bahwa Susno pernah satu-dua kali keluar tahanan Mako Brimob. Pernyataan tersebut juga ditangkis Henry hari ini. "Lho, satu atau dua kali itu yang mana? Ke Mahkamah Konstitusi, pelimpahan perkara ini, atau yang mana?" ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau