Komite Seleksi FFI 2010 Loloskan Dua Film Tambahan

Kompas.com - 16/11/2010, 18:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com --  Belum saja digelar, ajang pemberian penghargaan tertinggi insan film di Tanah Air, Festival Film Indonesia (FFI) 2010, kembali memunculkan kontroversi.

Jumat (12/11/2010) pekan lalu di hadapan pers, Tim Komite Seleksi FFI 2010 yang diketuai Viva Westi mengumumkan hanya delapan film saja yang dianggap layak menjadi nomine pada FFI tahun ini.

Dalam kesempatan tersebut, Westi menyebutkan dari 54 film yang ikut diseleksi, hanya delapan film yang memenuhi unsur sebuah karya film yang utuh. Film-film tersebut yakni 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta; Alangkah Lucunya Negeri Ini; Minggu Pagi di Victoria; Hari untuk Amanda; 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita; Cinta 2 Hati - Dilema; I Know What You Did on Facebook; dan Heartbreak.com.

"Jika kita memilih lebih dari itu, akan banyak film dengan standar yang sama yang akan ikut seleksi. Namun kami menilai hanya delapan film yang memenuhi kriteria sebagai film yang utuh," katanya saat itu.

Hal senada juga disampaikan Totot Indarto, anggota Komite Seleksi FFI 2010. Menurutnya,  anggota Komite Seleksi sepakat tak bisa memberi kuota lebih. "Jika tetap harus memenuhi kuota, ya kami harus adil karena ada sekitar 12 film yang sama kuatnya. Kita sepakat untuk tetap memilih delapan," ujarnya.

Namun keputusan tersebut kini dianulir. Atas permintaan Komite FFI  (KFFI) 2010, Komite seleksi menambah dua lagi film untuk ikut diseleksi bersama delapan film lainnya. Keduanya adalah Red Cobex karya Upi dan Sehidup (Tak) Semati karya sutradara Iqbal Rais.

Apa lantas yang mendasari keputusan tersebut? "Ini lebih didasari  untuk menghormati institusi FFI, di mana dalam buku pedoman pelaksanaan FFI 2010 ada ketentuan Komite Seleksi harus menetapkan sekurang-kurangnya sepuluh judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul pilihan. Hal tersebut tercantum dalam Bab II pasal 3 butir 5 pedoman Pelaksanaa FFI," beber Labbes Widar, koordinator Bidang Festival KFFI 2010 di Gedung Film, Jalan MT Haryono, Jakarta, Jumat.   

Catatan Buruk
Deddy Mizwar, Pengarah KFFI 2010, tak menampik munculnya keputusan untuk menambah film yang dinyatakan lolos seleksi adalah kecacatan yang tak bisa dihindari. "Ini mutlak kesalahan KFFI.  Kita dengan jiwa besar meminta maaf. Biarlah sanksi yang harus kami terima bahwa peristiwa ini jadi catatan buruk dalam perjalanan sejarah FFI," kata Deddy.

"Dalam konteks ini. Kami (KFFI) yang tanggung. Semua kesalahan dan kehilafan kami yang menanggung," katanya.     
 
Menurut Deddy, ada kesalahan prosedural yang terjadi saat tim Komite Seleksi FFI mengumunkan nama-nama film yang lolos seleksi pada Jumat pekan lalu.  "Kemarin kami akui adalah kesalahan KFFI, ada kekeliruan agenda acara. Seharusnya, hasil pertanggungjawaban anggota komite seleksi dalam menilai film-film itu tidak disampaikan secara terbuka tapi diserahkan kepada KFFI untuk menjadi dasar bagi tim dewan juri dalam penilaian nanti," kata Deddy.

Sayang, dalam kesempatan tersebut tak satu pun anggota tim Komite Seleksi FFI 2010 yang hadir menjelaskan terkait munculnya perubahan keputusannya tersebut. 

Sementara itu, pengumuman nominasi FFI 2010 akan digelar di Batam pada 28 November, sedangkan malam penganugerahan Piala Citra FFI 2010 akan dilangsungkan di Jakarta pada 6 Desember mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau