Korban merapi

Pangan Habis, Warga Merapi Makan Ubi

Kompas.com - 16/11/2010, 19:28 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com — Kondisi warga di luar wilayah pengungsian pasca-erupsi Gunung Merapi cukup memprihatinkan karena tanaman pertanian hancur terkena abu vulkanik. Sementara itu, mereka tidak mendapat bantuan seperti warga yang mengungsi.

Berdasarkan pantauan di Desa Jati, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Selasa (16/11/2010), sebagian warga terpaksa mengganti makanan pokok mereka dari nasi ke ubi atau ketela karena persediaan pangan sudah habis.

"Tidak ada lagi yang bisa dimakan. Hanya ketela yang bisa diambil dari ladang," kata warga Dusun Kadileben, Desa Jati, Kecamatan Sawangan, Winarti (39), yang sudah dua hari beralih makan ubi atau ketela.

Desa Jati bukan termasuk wilayah yang warganya harus mengungsi sehingga tidak mendapatkan jatah logistik dari pemerintah setempat, meski sawah dan ladang mereka hancur terkena abu vulkanik.

Kepala Desa Jati Lilik Sujadi mengatakan, di desanya terdapat 1.184 kepala keluarga yang sebagian besar mengandalkan hasil bumi untuk bertahan hidup.

Desa ini berada di perbatasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu atau sekitar 20 km dari puncak Merapi.

Ia mengatakan, hampir semua area perkebunan dan persawahan di daerahnya rusak. Kebanyakan tanaman ambruk karena terguyur abu vulkanik akibat erupsi Gunung Merapi.

"Kami sedang melakukan pendataan kerusakan tersebut," katanya.

Menurut Jati, dia telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Magelang. Namun, hal itu belum mendapatkan tanggapan.

Sekda Kabupaten Magelang, Utoyo, mengaku belum bisa memberi solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Sekarang masih dalam tanggap darurat. Yang kami urusi memang baru pengungsi karena peraturannya memang seperti itu," katanya.

Ia mengungkapkan, sekarang juga terjadi kecemburuan antara pengungsi dan warga di luar pengungsian.

Namun, Pemkab Magelang tidak bisa berbuat banyak karena penggunaan dana pemerintah tidak bisa sembarangan.

"Tidak menutup kemungkinan, penyelesaian masalah tersebut akan dibahas saat masa tanggap darurat dicabut," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau