Jalan lintas sumatera

Jalur Alternatif Macet Total

Kompas.com - 18/11/2010, 02:54 WIB

Kalianda, Kompas - Ratusan truk dan bus terjebak dalam kemacetan total di ruas jalan Simpang Gayam-Simpang Ketapang, Kalianda, Lampung Selatan, Rabu (17/11). Kemacetan ini terjadi menyusul ditutupnya ruas jalan lintas Sumatera di Kilometer 79/80 Bakauheni.

Kemacetan parah tersebut terutama terjadi menjelang sore hari. Ribuan truk dan bus antarkota antarprovinsi yang menuju ke arah Bandar Lampung tidak bisa bergerak hingga berjam-jam. Antrean panjang kendaraan mencapai 5 kilometer.

Sementara itu, kendaraan yang menuju ke Bakauheni terlihat padat merayap. Kemacetan parah tersebut terjadi akibat buruknya kondisi jalan alternatif sepanjang 9 kilometer itu. Kendaraan yang melintas harus antre menghindari kubangan berlumpur.

Truk-truk mudah tergelincir akibat kondisi jalanan penuh lumpur dan kubangan. Kemacetan semakin parah akibat tidak adanya polisi di lokasi tersebut yang berinisiatif mengatur lalu lintas. Upaya mengatasi kekacauan lalu lintas serta buruknya kondisi jalan dilakukan spontan oleh masyarakat setempat.

Sejumlah warga setempat berinisiatif menutup kubangan-kubangan dalam tersebut dengan pasir dan tanah seadanya. Namun, upaya tersebut juga tidak gratis.

Mereka tetap meminta imbalan berupa uang receh dari pengguna jalan. ”Baru sebentar sudah habis Rp 6.000 saya,” keluh Syamsudin Sembiring, pengemudi bus jurusan Bakauheni-Rajabasa.

Yang lebih disesalkan Syamsudin, kemacetan semacam ini hampir selalu terjadi sejak ditutupnya jalan lintas Sumatera di Km 79/80 Bakauheni, tiga pekan lalu. Ia bercerita, pada akhir pekan lalu, kemacetan lebih parah terjadi.

”Saat itu, kawan saya berangkat dari Bakauheni ke Rajabasa harus menempuh perjalanan 11 jam lamanya,” tuturnya.

Padahal, dalam kondisi normal, jarak Bakauheni-Rajabasa bisa ditempuh dalam waktu tiga jam.

Tombol biaya

Jonathan, sopir truk, juga mengeluhkan kondisi itu. Akibat kemacetan yang dipicu buruknya jalan, biaya operasional kendaraan yang harus ditanggung pengemudi semakin membengkak.

”Uang makan dan rokok jadi tambah. Akhirnya kami terpaksa harus nombok. Belum lagi stresnya,” ujar sopir yang sempat terjebak macet total selama tujuh jam pada awal pekan lalu itu.

Kemacetan parah di jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang itu terutama terjadi menjelang liburan Idul Adha, awal pekan lalu. Parahnya, kemacetan tersebut sempat mengular sepanjang puluhan kilometer, hingga ke Pelabuhan Bakauheni.

”Bakauheni sempat macet total. Bukan karena mobil yang antre ke kapal, melainkan justru yang keluar kapal ke arah Bandar Lampung,” ujar Safrudin Hadi, petugas di Pelabuhan Bakauheni, yang bercerita soal parahnya kemacetan pada Minggu lalu.

Kendaraan pribadi

Kemacetan semacam ini kerap terjadi selama tiga pekan terakhir, menyusul ditutupnya jalan lintas Sumatera di Km 79/80 Bakauheni untuk perbaikan total di bekas jalan ambles. Ruas tersebut kini hanya bisa dilewati kendaraan pribadi. Jembatan darurat yang sempat terpasang kini telah dibongkar total.

Syamsudin menyesalkan, perbaikan jalan ambles di Km 79/80 ini berlarut-larut. ”Masakan sudah hampir setahun jalan itu belum juga selesai diperbaiki. Sekarang harus ditutup pula. Itu kan jalan vital di Sumatera,” keluhnya. Jalan lintas Sumatera di titik tersebut ambles sejak Februari 2010.

Gorong-gorong

Sebelumnya, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Berlian Tihang mengungkapkan, penutupan ruas jalan lintas Sumatera di Km 79/80 bertujuan mempercepat pengerjaan gorong-gorong yang jebol di titik itu. Sebanyak 50 gorong-gorong berdiameter 2 meter tengah dibangun di dasar jalan lintas Sumatera tersebut. Namun, semua gorong-gorong itu hingga kini belum selesai terpasang.

Menyusul penutupan jalan lintas Sumatera tersebut, lalu lintas khusus truk dan bus dialihkan ke Simpang Gayam-Ketapang. Saat macet total terjadi di jalur alternatif itu, kendaraan dialihkan menuju Sribhawono, Lampung Timur, melalui jalan lintas pantai timur.

Meskipun relatif lebih lancar, jalur tersebut umumnya tak disukai pengguna jalan. Alasannya, jarak rute tersebut lebih jauh hingga dua kali lipat dibandingkan melalui jalan lintas Sumatera. Dari Bakauheni menuju Bandar Lampung melalui Sribhawono menempuh jarak hingga 160 kilometer. Sebaliknya, kalau menggunakan jalur jalan lintas Sumatera, hanya sejauh 80-an kilometer.

Untuk itu, pengguna jalan berharap penutupan jalan lintas Sumatera jangan sampai berlarut. Kontraktor didesak mempercepat pemasangan gorong-gorong sehingga kemacetan lalu lintas di jalur tersebut segera dapat terurai. (jon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau