Kalianda, Kompas -
Kemacetan parah tersebut terutama terjadi menjelang sore hari. Ribuan truk dan bus antarkota antarprovinsi yang menuju ke arah Bandar Lampung tidak bisa bergerak hingga berjam-jam. Antrean panjang kendaraan mencapai 5 kilometer.
Sementara itu, kendaraan yang menuju ke Bakauheni terlihat padat merayap. Kemacetan parah tersebut terjadi akibat buruknya kondisi jalan alternatif sepanjang 9 kilometer itu. Kendaraan yang melintas harus antre menghindari kubangan berlumpur.
Truk-truk mudah tergelincir akibat kondisi jalanan penuh lumpur dan kubangan. Kemacetan semakin parah akibat tidak adanya polisi di lokasi tersebut yang berinisiatif mengatur lalu lintas. Upaya mengatasi kekacauan lalu lintas serta buruknya kondisi jalan dilakukan spontan oleh masyarakat setempat.
Sejumlah warga setempat berinisiatif menutup kubangan-kubangan dalam tersebut dengan pasir dan tanah seadanya. Namun, upaya tersebut juga tidak gratis.
Mereka tetap meminta imbalan berupa uang receh dari pengguna jalan. ”Baru sebentar sudah habis Rp 6.000 saya,” keluh Syamsudin Sembiring, pengemudi bus jurusan Bakauheni-Rajabasa.
Yang lebih disesalkan Syamsudin, kemacetan semacam ini hampir selalu terjadi sejak ditutupnya jalan lintas Sumatera di Km 79/80 Bakauheni, tiga pekan lalu. Ia bercerita, pada akhir pekan lalu, kemacetan lebih parah terjadi.
”Saat itu, kawan saya berangkat dari Bakauheni ke Rajabasa harus menempuh perjalanan 11 jam lamanya,” tuturnya.
Padahal, dalam kondisi normal, jarak Bakauheni-Rajabasa bisa ditempuh dalam waktu tiga jam.
Jonathan, sopir truk, juga mengeluhkan kondisi itu. Akibat kemacetan yang dipicu buruknya jalan, biaya operasional kendaraan yang harus ditanggung pengemudi semakin membengkak.
”Uang makan dan rokok jadi tambah. Akhirnya kami terpaksa harus
Kemacetan parah di jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang itu terutama terjadi menjelang liburan Idul Adha, awal pekan lalu. Parahnya, kemacetan tersebut sempat mengular sepanjang puluhan kilometer, hingga ke Pelabuhan Bakauheni.
”Bakauheni sempat macet total. Bukan karena mobil yang antre ke kapal, melainkan justru yang keluar kapal ke arah Bandar Lampung,” ujar Safrudin Hadi, petugas di Pelabuhan Bakauheni, yang bercerita soal parahnya kemacetan pada Minggu lalu.
Kemacetan semacam ini kerap terjadi selama tiga pekan terakhir, menyusul ditutupnya jalan lintas Sumatera di Km 79/80 Bakauheni untuk perbaikan total di bekas jalan ambles. Ruas tersebut kini hanya bisa dilewati kendaraan pribadi. Jembatan darurat yang sempat terpasang kini telah dibongkar total.
Syamsudin menyesalkan, perbaikan jalan ambles di Km 79/80 ini berlarut-larut. ”Masakan sudah hampir setahun jalan itu belum juga selesai diperbaiki. Sekarang harus ditutup pula. Itu kan jalan vital di Sumatera,” keluhnya. Jalan lintas Sumatera di titik tersebut ambles sejak Februari 2010.
Sebelumnya, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Berlian Tihang mengungkapkan, penutupan ruas jalan lintas Sumatera di Km 79/80 bertujuan mempercepat pengerjaan gorong-gorong yang jebol di titik itu. Sebanyak 50 gorong-gorong berdiameter 2 meter tengah dibangun di dasar jalan lintas Sumatera tersebut. Namun, semua gorong-gorong itu hingga kini belum selesai terpasang.
Menyusul penutupan jalan lintas Sumatera tersebut, lalu lintas khusus truk dan bus dialihkan ke Simpang Gayam-Ketapang. Saat macet total terjadi di jalur alternatif itu, kendaraan dialihkan menuju Sribhawono, Lampung Timur, melalui jalan lintas pantai timur.
Meskipun relatif lebih lancar, jalur tersebut umumnya tak disukai pengguna jalan. Alasannya, jarak rute tersebut lebih jauh hingga dua kali lipat dibandingkan melalui jalan lintas Sumatera. Dari Bakauheni menuju Bandar Lampung melalui Sribhawono menempuh jarak hingga 160 kilometer. Sebaliknya, kalau menggunakan jalur jalan lintas Sumatera, hanya sejauh 80-an kilometer.
Untuk itu, pengguna jalan berharap penutupan jalan lintas Sumatera jangan sampai berlarut. Kontraktor didesak mempercepat pemasangan gorong-gorong sehingga kemacetan lalu lintas di jalur tersebut segera dapat terurai.