Bursa saham

PT Telkom Tbk Tetap Bertahan di Wall Street

Kompas.com - 18/11/2010, 03:00 WIB

New York, Kompas - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk akan tetap mempertahankan perdagangan saham mereka di New York Stock Exchange, Amerika Serikat. Selain karena volume perdagangan yang cukup menjanjikan, Telkom juga telah melewati ujian penerapan Sarbanes-Oxley Act yang diwajibkan Badan Regulator Pasar Saham Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah seusai membunyikan bel menutup sesi perdagangan Senin di bursa saham New York (NYSE), Senin (15/11) waktu setempat atau Selasa pagi WIB. Kehormatan itu diberikan kepada Telkom untuk memperingati 15 tahun tahun penawaran saham perdana (IPO) Telkom di bursa saham terbesar itu.

”Sekitar 30 persen volume perdagangan saham Telkom berada di NYSE. Dengan volume perdagangan seperti ini, kami harus berpikir dua kali kalau mau delisting. Selain karena prosesnya susah, Telkom juga sudah melewati masa sulit tahun 2005- 2007 saat penerapan Sarbanes- Oxley Act. Walaupun biaya untuk tetap listing di sini lebih mahal, setimpal dengan kerapian dan ketertiban administrasi kita di Indonesia,” ujar Rinaldi.

Data perdagangan saham Januari-Oktober 2010 memperlihatkan, volume perdagangan saham Telkom di NYSE dalam bentuk American Depositary Share (ADS) tercatat 52.494.858 ADS. Dengan 1 ADS setara 40 saham, volumenya mencapai 2.099.794.320 lembar saham. Pada saat yang sama, volume perdagangan saham Telkom di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat 4.271.600.000 saham.

”Volume perdagangan saham Telkom di sini cukup tinggi dalam dua tahun terakhir, sekitar 33 sampai 38 persen dari total. Di bursa London sekitar 2 persen dan sisanya yang 60 persen di BEI,” ujar Marketing Director International Listing Asia Pacific NYSE Euronext Marc H Iyeki.

Rinaldi mengisyaratkan akan mengevaluasi pencatatan saham di bursa saham London dan perdagangan di Jepang. ”Dengan mergernya NYSE dan Euronext yang mewakili Eropa, kami akan mempelajari statusnya di London dan Tokyo,” ujar Rinaldi.

Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng mengatakan, bertahan hingga 15 tahun di NYSE memperlihatkan kemampuan Telkom untuk memperbaiki diri setelah laporan keuangan badan usaha milik negara ini yang sempat ditolak terkait dengan penerapan Sarbanes-Oxley Act. ”Bahkan, Pemerintah Indonesia saja minta kita mundur, tetapi kini kami bisa memenuhi persyaratan itu 100 persen,” ujar Tanri.

Peringatan 15 tahun pencatatan saham Telkom di NYSE dilakukan pukul 16.00 waktu setempat. Rinaldi membunyikan bel didampingi Senior Vice President NYSE Euronext John R Merrell, Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno, Tanri Abeng, serta pelaksana tugas Konsul Jenderal RI di New York Bambang Antarikso. (J Waskita Utama, dari New York, AS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau