Menurut Ketua Himpunan Pedagang Beras Bendulmerisi Surabaya Sudarno yang ditemui di Surabaya pada Kamis (18/11), harga beras memang terus naik. Pemicunya adalah semakin minimnya persediaan gabah di tangan petani.
Saat ini harga beras paling murah Rp 6.500 per kilogram (kg). Harga beras berkualitas bagus sudah mencapai Rp 9.000 per kg. ”Pasokan lancar, tetapi volumenya sedikit berkurang,” katanya.
Padahal kebutuhan beras tidak berkurang, tetapi cenderung meningkat. ”Saya baru menyusuri wilayah Jabar, Jateng, hingga Jatim, terutama daerah sentra produksi. Saat ini tanaman padi sedang hijau dan diperkirakan pada Februari mendatang sudah dipanen,” katanya.
Pasokan beras saat ini dari sentra produksi di Jatim, seperti Madiun dan Kediri. ”Jumlahnya juga terus merosot karena produksi tidak sesuai dengan harapan akibat anomali cuaca,” ujar Sudarno.
Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga beras. Perubahan harga bisa terjadi dua kali dalam sepekan. ”Saya tidak berani menyediakan beras dalam jumlah banyak untuk menghindari fluktuasi harga,” kata seorang pedagang di Pasar Wonokromo.
Kenaikan harga beras juga dikeluhkan pengelola restoran dan rumah makan, terutama pedagang nasi kaki lima. ”Harga beras dua bulan lalu masih Rp 5.500 per kg, tetapi sekarang Rp 6.500 per kg. Meski mahal, beras tetap dibeli untuk menghindari komplain pelanggan,” ujar Ali (34), pemilik warung nasi padang di Kendangsari.
Meski harga beras naik, harga nasi tidak serta-merta bisa berubah. ”Sekarang bukan hanya beras yang mahal, harga sayur mayur dan bumbu dapur juga ikut terdongkrak. Alasan pedagang, hasil panen buruk,” katanya menambahkan.
Minimnya persediaan di tangan petani juga berdampak terhadap penyerapan Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jatim. Sejak akhir Oktober lalu, penyerapan beras Bulog berhenti.
Akibatnya, target penyerapan beras tahun 2010 sebanyak 650.000 ton tidak tercapai. Penyerapan beras hingga pertengahan November 2010 hanya 605.000 ton.
Kendala penyerapan adalah iklim tidak menentu dan musim hujan yang panjang. Hal ini mengakibatkan penurunan produksi beras di provinsi ini.
Karena rendahnya penyerapan beras, Agustus lalu Perum Bulog Divre Jatim merevisi target pengadaan beras tahun 2010 dari 850.000 ton menjadi 650.000 ton. Namun hingga pertengahan November, pengadaan beras baru 605.000 ton.
Dengan demikian, penyerapan beras tahun ini jauh di bawah tahun 2009, yakni 1,1 juta ton. Namun, Perum Bulog Divre Jatim masih memiliki stok beras sebanyak 187.262 ton.