Harga Beras Melambung

Kompas.com - 19/11/2010, 04:16 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Harga beras di pasar di Surabaya diperkirakan terus melambung hingga Februari 2011, setelah memasuki musim panen raya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kenaikan harga kebutuhan pokok ini bisa mencapai Rp 600 per kilogram.

Menurut Ketua Himpunan Pedagang Beras Bendulmerisi Surabaya Sudarno yang ditemui di Surabaya pada Kamis (18/11), harga beras memang terus naik. Pemicunya adalah semakin minimnya persediaan gabah di tangan petani.

Saat ini harga beras paling murah Rp 6.500 per kilogram (kg). Harga beras berkualitas bagus sudah mencapai Rp 9.000 per kg. ”Pasokan lancar, tetapi volumenya sedikit berkurang,” katanya.

Padahal kebutuhan beras tidak berkurang, tetapi cenderung meningkat. ”Saya baru menyusuri wilayah Jabar, Jateng, hingga Jatim, terutama daerah sentra produksi. Saat ini tanaman padi sedang hijau dan diperkirakan pada Februari mendatang sudah dipanen,” katanya.

Pasokan beras saat ini dari sentra produksi di Jatim, seperti Madiun dan Kediri. ”Jumlahnya juga terus merosot karena produksi tidak sesuai dengan harapan akibat anomali cuaca,” ujar Sudarno.

Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga beras. Perubahan harga bisa terjadi dua kali dalam sepekan. ”Saya tidak berani menyediakan beras dalam jumlah banyak untuk menghindari fluktuasi harga,” kata seorang pedagang di Pasar Wonokromo.

Persediaan minim

Kenaikan harga beras juga dikeluhkan pengelola restoran dan rumah makan, terutama pedagang nasi kaki lima. ”Harga beras dua bulan lalu masih Rp 5.500 per kg, tetapi sekarang Rp 6.500 per kg. Meski mahal, beras tetap dibeli untuk menghindari komplain pelanggan,” ujar Ali (34), pemilik warung nasi padang di Kendangsari.

Meski harga beras naik, harga nasi tidak serta-merta bisa berubah. ”Sekarang bukan hanya beras yang mahal, harga sayur mayur dan bumbu dapur juga ikut terdongkrak. Alasan pedagang, hasil panen buruk,” katanya menambahkan.

Minimnya persediaan di tangan petani juga berdampak terhadap penyerapan Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jatim. Sejak akhir Oktober lalu, penyerapan beras Bulog berhenti.

Akibatnya, target penyerapan beras tahun 2010 sebanyak 650.000 ton tidak tercapai. Penyerapan beras hingga pertengahan November 2010 hanya 605.000 ton.

Kendala penyerapan adalah iklim tidak menentu dan musim hujan yang panjang. Hal ini mengakibatkan penurunan produksi beras di provinsi ini.

Karena rendahnya penyerapan beras, Agustus lalu Perum Bulog Divre Jatim merevisi target pengadaan beras tahun 2010 dari 850.000 ton menjadi 650.000 ton. Namun hingga pertengahan November, pengadaan beras baru 605.000 ton.

Dengan demikian, penyerapan beras tahun ini jauh di bawah tahun 2009, yakni 1,1 juta ton. Namun, Perum Bulog Divre Jatim masih memiliki stok beras sebanyak 187.262 ton. (ETA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau