Dampak dari kebijakan ini kerap terjadi kemacetan parah di jalur alternatif Simpang Gayam- Simpang Ketapang, terutama saat lalu lintas padat.
Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Berlian Tihang, Kamis (18/11), mengatakan, di ruas itu sejak tiga pekan lalu dilakukan perbaikan gorong-gorong yang rusak di dasar jalan sejak Februari lalu. ”Rencananya ditutup enam minggu kalau cuaca mendukung. Kami sudah berkoordinasi dengan polisi dan dinas perhubungan untuk hal ini,” ujarnya.
Sebelumnya, jalur utama di Sumatera bisa dilewati truk dan bus melalui dua arah. Pihak kontraktor kemudian membongkar jalan darurat di sebelah timur untuk melakukan perbaikan gorong-gorong. Jalur tersebut kini hanya bisa dilewati kendaraan berukuran kecil.
Dari rencana 50 gorong-gorong yang akan dipasang, sudah terpasang 42 unit. Kedalaman gorong-gorong mencapai 24 meter dari permukaan jalan dengan diameter masing-masing 2 meter dan berat 8 ton.
Februari lalu, gorong-gorong yang lama pecah dan memicu amblesnya badan jalan di titik tersebut.
Akibat ditutupnya jalan lintas Sumatera (jalinsum) di ruas itu, lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang atau jalur lintas pantai timur melalui Sribhawono, Lampung Timur. Namun, saat lalu lintas padat, hampir selalu terjadi kemacetan parah di jalur alternatif tersebut.
Rabu malam lalu, misalnya, terjadi kemacetan total di ruas Simpang Gayam-Ketapang sepanjang lebih dari 6 km. Akhir pekan lalu kemacetan lebih parah, mencapai puluhan kilometer, hingga Pelabuhan Bakauheni. Kendaraan yang baru keluar dari pelabuhan langsung kena macet.
Kemacetan terjadi akibat buruknya kondisi jalan di jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang. Jalan provinsi itu rusak parah, penuh lumpur dan kubangan.
Tidak jarang truk atau bus terjebak di kubangan. Medan menanjak di dekat Pasar Bakauheni juga menyulitkan truk sarat muatan untuk melewatinya.
Syamsudin Sembiring, sopir bus jurusan Bakauheni-Rajabasa, mengatakan, akibat kemacetan lalu lintas yang demikian, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama. ”Dari biasanya hanya tiga jam sekarang bisa menjadi sembilan jam,” ujarnya, seraya mengeluhkan berlarut-larutnya perbaikan jalan di Km 79/80 tersebut.
”Padahal, sudah hampir setahun, tetapi perbaikan belum juga selesai,” tambah Syamsudin.
Pejabat Pembuat Komitmen pada Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Hadiyanto mengatakan, pihaknya tengah berupaya mempercepat perbaikan jalan di Km 79/80. ”Sedikitnya tujuh alat berat telah dikerahkan untuk membongkar tanah dan memperbaiki gorong-gorong,” katanya.