Jalinsum Ditutup Enam Pekan

Kompas.com - 19/11/2010, 04:31 WIB

Kalianda, Kompas - Jalan lintas Sumatera di ruas Simpang Bakauheni-Simpang Gayam, Lampung Selatan, ditutup untuk kendaraan umum dan truk setidaknya enam pekan sejak tiga minggu lalu. Tujuannya, percepatan perbaikan jalan ambles di Kilometer 79/80, Desa Hatta, Bakauheni.

Dampak dari kebijakan ini kerap terjadi kemacetan parah di jalur alternatif Simpang Gayam- Simpang Ketapang, terutama saat lalu lintas padat.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Berlian Tihang, Kamis (18/11), mengatakan, di ruas itu sejak tiga pekan lalu dilakukan perbaikan gorong-gorong yang rusak di dasar jalan sejak Februari lalu. ”Rencananya ditutup enam minggu kalau cuaca mendukung. Kami sudah berkoordinasi dengan polisi dan dinas perhubungan untuk hal ini,” ujarnya.

Sebelumnya, jalur utama di Sumatera bisa dilewati truk dan bus melalui dua arah. Pihak kontraktor kemudian membongkar jalan darurat di sebelah timur untuk melakukan perbaikan gorong-gorong. Jalur tersebut kini hanya bisa dilewati kendaraan berukuran kecil.

Dari rencana 50 gorong-gorong yang akan dipasang, sudah terpasang 42 unit. Kedalaman gorong-gorong mencapai 24 meter dari permukaan jalan dengan diameter masing-masing 2 meter dan berat 8 ton.

Februari lalu, gorong-gorong yang lama pecah dan memicu amblesnya badan jalan di titik tersebut.

Macet parah

Akibat ditutupnya jalan lintas Sumatera (jalinsum) di ruas itu, lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang atau jalur lintas pantai timur melalui Sribhawono, Lampung Timur. Namun, saat lalu lintas padat, hampir selalu terjadi kemacetan parah di jalur alternatif tersebut.

Rabu malam lalu, misalnya, terjadi kemacetan total di ruas Simpang Gayam-Ketapang sepanjang lebih dari 6 km. Akhir pekan lalu kemacetan lebih parah, mencapai puluhan kilometer, hingga Pelabuhan Bakauheni. Kendaraan yang baru keluar dari pelabuhan langsung kena macet.

Kemacetan terjadi akibat buruknya kondisi jalan di jalur alternatif Simpang Gayam-Ketapang. Jalan provinsi itu rusak parah, penuh lumpur dan kubangan.

Tidak jarang truk atau bus terjebak di kubangan. Medan menanjak di dekat Pasar Bakauheni juga menyulitkan truk sarat muatan untuk melewatinya.

Syamsudin Sembiring, sopir bus jurusan Bakauheni-Rajabasa, mengatakan, akibat kemacetan lalu lintas yang demikian, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama. ”Dari biasanya hanya tiga jam sekarang bisa menjadi sembilan jam,” ujarnya, seraya mengeluhkan berlarut-larutnya perbaikan jalan di Km 79/80 tersebut.

”Padahal, sudah hampir setahun, tetapi perbaikan belum juga selesai,” tambah Syamsudin.

Pejabat Pembuat Komitmen pada Dinas Bina Marga Provinsi Lampung Hadiyanto mengatakan, pihaknya tengah berupaya mempercepat perbaikan jalan di Km 79/80. ”Sedikitnya tujuh alat berat telah dikerahkan untuk membongkar tanah dan memperbaiki gorong-gorong,” katanya. (jon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau