Galunggung Jadi Minapolitan

Kompas.com - 19/11/2010, 11:01 WIB

Tasikmalaya, Kompas - Empat kecamatan yang berada di kaki Gunung Galunggung akan dijadikan kawasan minapolitan perikanan budidaya, dengan komoditas ikan mas dan nila. Jika terwujud, diperlukan sinergi antarsektor untuk mendukung program tersebut.

Keempat kecamatan tersebut ialah Kecamatan Padakembang sebagai pusatnya serta tiga kecamatan lain sebagai daerah penunjang, yakni Kecamatan Sukaratu di sebelah utara, Kecamatan Singaparna di selatan, dan Leuwisari di arah barat.

Demikian disampaikan Kepala Seksi Perikanan Budidaya Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya Asep Tardiaman, Kamis (18/11). ”Sebenarnya dari awal tahun 2010 Kecamatan Padakembang sudah diplot menjadi kawasan minapolitan. Pemerintah pusat juga sudah mengecek ke lapangan. Namun, agar sinergi antarsektor berjalan lancar, kami masih menunggu surat keputusan dari bupati,” tuturnya.

Mencapai 7.997 ton

Pada triwulan I-2010, produksi ikan Kabupaten Tasikmalaya dari kolam mencapai 7.997 ton atau 14,7 persen dari produksi kolam Jawa Barat yang sebanyak 54.306 ton. Di Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya menjadi satu dari lima kabupaten yang menjadi lokasi kawasan minapolitan perikanan budidaya bersama Kabupaten Garut, Bogor, Subang, dan Sumedang.

Asep mengatakan, Padakembang dipilih sebagai pusat kawasan minapolitan karena beberapa hal. Syarat sebuah kawasan minapolitan, yang di antaranya berupa adanya balai benih, pasar ikan, akses yang bagus, banyaknya pembudidaya, dan luas kolam, terpenuhi oleh Padakembang.

Dengan luas kolam mencapai 300 hektar, Padakembang menjadi lokasi pembudidaya yang sebagian besar membudidayakan ikan nilam. Ratusan juta ekor benih dihasilkan oleh pembudidaya di Padakembang setiap bulan. Jika terwujud menjadi kawasan minapolitan, harus ada pemetaan tahapan produksi, dari pembenihan, pendederan, dan pembesaran.

Asep menambahkan, beberapa pembudidaya pemula yang mendapat bantuan paket wirausaha diarahkan kepada usaha pembesaran nila. Ikan hasil panen mereka pun akan diarahkan untuk dijual ke pasar ikan Padakembang, yang selama ini tidak berkembang.

Lokasi yang cocok

Ketua Biro Perikanan Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Barat Muhamad Husen menilai, kawasan di kaki Gunung Galunggung cocok untuk dijadikan lokasi minapolitan. Apalagi, komoditas ikan nilam selama ini banyak dibudidayakan masyarakat.

Hanya saja, Husen berpesan agar daerah tersebut menjadi kawasan minapolitan yang bagus. Semua aspek harus ditata. Setiap subsistem dari minapolitan harus dibenahi agar dapat memberikan kontribusi maksimal. Misalnya, menjadikan balai benih yang ada sebagai penyuplai benih unggulan dan memfungsikan pasar ikan sebagai pusat transaksi ikan.

”Pemerintah jangan hanya berorientasi produksi, tetapi pasar harus diperhatikan juga. Kebijakan yang dibuat jangan sampai justru menjadi bumerang. Bisa-bisa, meski ikan yang dihasilkan banyak, tidak ada yang membeli,” kata Husen.

Oleh karena itu, menurut Husen, komoditas yang dibudidayakan jangan hanya nila nirwana (nila ras wanayasa). Pemerintah harus berani memberikan nila nirwana dengan nila gesit sehingga bisa menghasilkan nila monoseks jantan yang pertumbuhannya lebih cepat. (adh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau