Keempat kecamatan tersebut ialah Kecamatan Padakembang sebagai pusatnya serta tiga kecamatan lain sebagai daerah penunjang, yakni Kecamatan Sukaratu di sebelah utara, Kecamatan Singaparna di selatan, dan Leuwisari di arah barat.
Demikian disampaikan Kepala Seksi Perikanan Budidaya Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya Asep Tardiaman, Kamis (18/11). ”Sebenarnya dari awal tahun 2010 Kecamatan Padakembang sudah diplot menjadi kawasan minapolitan. Pemerintah pusat juga sudah mengecek ke lapangan. Namun, agar sinergi antarsektor berjalan lancar, kami masih menunggu surat keputusan dari bupati,” tuturnya.
Pada triwulan I-2010, produksi ikan Kabupaten Tasikmalaya dari kolam mencapai 7.997 ton atau 14,7 persen dari produksi kolam Jawa Barat yang sebanyak 54.306 ton. Di Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya menjadi satu dari lima kabupaten yang menjadi lokasi kawasan minapolitan perikanan budidaya bersama Kabupaten Garut, Bogor, Subang, dan Sumedang.
Asep mengatakan, Padakembang dipilih sebagai pusat kawasan minapolitan karena beberapa hal. Syarat sebuah kawasan minapolitan, yang di antaranya berupa adanya balai benih, pasar ikan, akses yang bagus, banyaknya pembudidaya, dan luas kolam, terpenuhi oleh Padakembang.
Dengan luas kolam mencapai 300 hektar, Padakembang menjadi lokasi pembudidaya yang sebagian besar membudidayakan ikan nilam. Ratusan juta ekor benih dihasilkan oleh pembudidaya di Padakembang setiap bulan. Jika terwujud menjadi kawasan minapolitan, harus ada pemetaan tahapan produksi, dari pembenihan, pendederan, dan pembesaran.
Asep menambahkan, beberapa pembudidaya pemula yang mendapat bantuan paket wirausaha diarahkan kepada usaha pembesaran nila. Ikan hasil panen mereka pun akan diarahkan untuk dijual ke pasar ikan Padakembang, yang selama ini tidak berkembang.
Ketua Biro Perikanan Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Barat Muhamad Husen menilai, kawasan di kaki Gunung Galunggung cocok untuk dijadikan lokasi minapolitan. Apalagi, komoditas ikan nilam selama ini banyak dibudidayakan masyarakat.
Hanya saja, Husen berpesan agar daerah tersebut menjadi kawasan minapolitan yang bagus. Semua aspek harus ditata. Setiap subsistem dari minapolitan harus dibenahi agar dapat memberikan kontribusi maksimal. Misalnya, menjadikan balai benih yang ada sebagai penyuplai benih unggulan dan memfungsikan pasar ikan sebagai pusat transaksi ikan.
”Pemerintah jangan hanya berorientasi produksi, tetapi pasar harus diperhatikan juga. Kebijakan yang dibuat jangan sampai justru menjadi bumerang. Bisa-bisa, meski ikan yang dihasilkan banyak, tidak ada yang membeli,” kata Husen.
Oleh karena itu, menurut Husen, komoditas yang dibudidayakan jangan hanya nila nirwana (nila ras wanayasa). Pemerintah harus berani memberikan nila nirwana dengan nila gesit sehingga bisa menghasilkan nila monoseks jantan yang pertumbuhannya lebih cepat.