Unjuk rasa karyawan

Sara Lee: Tuntutan Mereka Tak Masuk Akal

Kompas.com - 19/11/2010, 14:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi mogok kerja karyawan PT Sara Lee Indonesia secara nasional sudah diketahui oleh pihak manajemen. Para karyawan dianggap manajemen menuntut kompensasi finansial yang sangat tinggi, jauh di atas yang disyaratkan undang-undang saat bisnis sedang dalam proses perpindahan ke pemilik baru.

"Permintaan mereka tidak masuk akal dan tidak sah secara hukum. Fokus utama kami adalah untuk melanjutkan bisnis seperti biasa dan memastikan layanan kami terhadap pelanggan tetap terjaga," kata Presiden Direktur PT Sara Lee Indonesia Tbk Amitava Chatterjee dalam keterangan persnya, Jumat (19/11/2010) di Jakarta.

Amitava mengatakan, perusahaan saat ini terus meningkatkan dialog secara intensif dengan kalangan pekerja. Harapannya, agar permasalahan dapat diselesaikan secara internal dan atas dasar saling memahami.

Aksi mogok kali ini diikuti 334 orang karyawan pabrik yang berlokasi di Ciracas, Jakarta Timur, itu. Aksi damai itu dilakukan pula oleh 81 persen karyawan bagian penjualan di seluruh Indonesia, mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Nusa Tenggara Timur.

"Ini akibat dari diingkarinya hasil pertemuan dan notulen-notulen rapat oleh para direksi Sara Lee Indonesia dalam setiap musyawarah dan upaya komunikasi yang berkali-kali digelar sejak 25 September 2009 lalu," ungkap Darul, koordinator aksi mogok yang juga Ketua Serikat Pekerja Sara Lee Indonesia.

Termasuk dalam upaya penyelesaian masalah itu adalah rapat tripartit sebanyak tiga kali yang diselenggarakan di Kantor Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Timur. Namun, kesepakatan belum tercapai hingga kini.

Mengutip pandangan Chairman Sara Lee International, Brenda Barnes, Darul menyatakan, proses akuisisi Sara Lee oleh perusahaan sekelas Unilever adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Brenda ketika itu menganggap penawaran akuisisi itu sebagai harga yang amat bagus.

"Jelaslah, akuisisi Sara Lee oleh Unilever itu terjadi bukan dalam keadaan pailit atau rugi," kata Darul.

Karyawan merasa yakin bahwa perusahaan, baik Sara Lee maupun pihak pembeli (Unilever), punya kekuatan finansial atau daya bayar luar biasa. "Perkiraan nilai tuntutan karyawan itu cuma Rp 172 miliar atau 1,075 persen dibandingkan dengan cost ratio promosi yang selama ini dijalankan, yakni antara 5 dan 8 persen," ujar dia.

Sara Lee adalah sebuah grup perusahaan multinasional yang memproduksi sejumlah produk terkenal di dunia, sebut saja Zwitsal, Purol, She, Kiwi, Brylcreem, Densol, dan sebagainya.

Sara Lee Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Bogor Km 27 Ciracas, Jakarta Timur, meliputi tiga perusahaan, yakni PT Sara Lee Indonesia, PT Sara Lee Household Indonesia, dan PT Sara Lee Body Care Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau