Unjuk rasa

Kaus Merah Baru Sekadar Berkumpul (Lagi)

Kompas.com - 19/11/2010, 16:43 WIB
BANGKOK, KOMPAS.com - Ribuan demonstran antipemerintah berencana kembali ke jalan-jalan di Bangkok pada Jumat (19/11/2010) sebagai peringatan enam bulan tindakan kekerasan militer atas mereka namun tidak diperkirakan dapat berubah menjadi aksi kekerasan.
   
Demonstran kaus merah akan berkumpul di distrik perbelanjaan yang sama saat terjadinya kerusuhan pada April hingga Mei yang menewaskan 91 orang dan melukai setidaknya 1.800 orang dalam aksi kekerasan politik terburuk dalam sejarah modern Thailand.
   
Namun, kurangnya kepemimpinan di antara kaus merah tampaknya membuat aksi kali ini tidak akan menjadi protes yang berlarut-larut, terutama karena masih segarnya ingatan mengenai kerusuhan pada 19 Mei yang berakhir pada malam kerusuhan dengan setidaknya 30 gedung dilalap api. "Ada keinginan agar protes ini berlangsung singkat dan tidak terus-menerus," kata Karn Yuenyong, direktur lembaga pemikir Siam Intelligence Unit.

"Tujuan mereka adalah untuk mendorong masyarakat dan mengingatkan pemerintah bahwa kemarahan masih ada namun belum untuk memaksakan berakhirnya pemerintahan," imbuhnya.
   
Pada pertemuan Jumat malam, diperkirakan sekitar 10.000 demonstran berada di distrik Ratchaprasong sebagai wujud pengingat bagi masyarakat Thailand bahwa masih ada persoalan berbahaya yang belum terselesaikan meski pemerintah berjanji melakukan rekonsiliasi.
   
Hal tersebut juga menunjukkan betapa cepatnya kaus merah berkumpul kembali di Bangkok meski dalam delapan bulan terakhir diberlakukan peraturan darurat yang melarang berkumpulnya warga berjumlah lebih dari lima orang.  Walau secara teknis ilegal, protes pada Jumat tetap dibolehkan sebanjang berlangsung damai.

Ekonomi kokoh
   
Undang-undang darurat menolong untuk mengembalikan ketertiban di Thailand. Perekonomian Thailand kembali pulih, diperkirakan tumbuh hingga 8 persen pada tahun ini.
   
Harga saham Thailand jatuh hingga 5 persen hingga 1,5 miliar dollar AS karena adanya gelombang penjualan saham oleh asing pada saat kerusuhan sekarang berada di peringkat kedua sebagai yang terkokoh se-Asia Tenggara.
   
Namun berlanjutnya gerakan protes menandakan tipisnya kesempatan untuk segera mengakhiri dengan segera krisis politik selama lima tahun tersebut, memperlihatkan adanya lubang besar antara kelompok kaus merah yang berasal dari kaum pekerja di perkotaan dan pedesaan melawan kaum elite, kerajaan, dan militer yang mendukung Perdana Menteri kelahiran Inggris lulusan Oxford, Abhisit Vejjajiva.
   
"Meski demonstrasi berlanjut hari ini, saya hanya melihat sedikit risiko politik," kata Chakkrit Charoenmethachai, seorang analis dari perusahaan perantara saham di Bangkok, Globlex Securities Co Ltd.
   
Demonstran yang kebanyakan juga memberi dukungan kepada mantan PM yang dua kali terpilih, Thaksin Shinawattra, mengatakan demokrasi dan peradilan telah dirusak oleh musuh mereka yang berkuasa dan meminta agar pemilu dilangsungkan kembali yang menurut Abhisit dapat dilakukan tahun depan sebelum masa pemerintahannya selesai bila negara dalam kondisi damai.
   
Beberapa ratus demonstran berpakaian hitam dan membawa mawar merah berkumpul di luar penjara di Bangkok pada Jumat pagi meminta pembebasan demonstran lain dan pemimpin mereka. Pihak berwenang memperkirakan setidaknya 150 orang masih ditahan.
   
Meski massa diperkirakan berjumlah besar, tentara keamanan dan pengamat memperkirakan keadaan tetap amam.
   
Pemimpin demostran yang tetap bebas karena imunitas yang diberikan kepadanya sebagai anggota parlemen, Jatuporn Prompan, mengatakan kepada polisi pada Kamis bahwa protes hanya akan berlangsung 1-2 jam. Sekitar 1.800 polisi akan diturunkan untuk mengawasi konvoi massa.
   
"Kami meminta pembebasan para pemimpin kami dan penuntutan bagi mereka yang bertanggung jawab atas tindakan mereka dan kami akan segera pulang ke rumah," kata Jatuporn kepada Reuters.

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau