Pemuda Harus Belajar di Laut

Kompas.com - 19/11/2010, 17:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia sebagai negara maritim harus bisa mengembangkan kemampuan di bidang laut seluas-luasnya. Generasi muda pun dirasa harus belajar melalui pelayaran di laut.

Menurut mantan Komandan KRI Dewa Ruci Kapten Gita Ardjakusuma, laut dapat memberikan banyak pembelajaran bagi kaum muda. Laut bukan hanya tempat untuk belajar berlayar, melainkan juga tempat untuk membangun mental dan karakter manusia.

"Kita butuh kapal latih pemuda. Hasil dari belajar di kapal itu banyak, misalnya sikap percaya diri, perilaku diri, kemampuan bersosialisasi, motivasi, kepemimpinan, kerja sama, dan kesadaran diri. Ini sudah dibuktikan oleh semua perwira yang pernah bertugas di Dewa Ruci," ujarnya saat acara peluncuran buku Sebuah Kisah Nyata Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat (19/11/2010).

Penulis buku tersebut, Cornelis Kowaas, berujar, karena Indonesia tidak memiliki wawasan kelautan, banyak hasil laut yang hilang begitu saja tanpa bisa dinikmati bangsa sendiri. "Laut kita maha luas, hasilnya banyak tapi bukan kita yang nikmati. Tambang minyak kita diambil negara lain, pasir laut kita diambil Singapura. Kenapa? karena kita hanya melihat dari daratan. Kita takut melihat laut," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia Eddy Prastyono PhD. Menurutnya, Indonesia merupakan negara maritim yang seharusnya bisa mengembangkan kekuatan laut sebesar-besarnya.

"Kita selalu bilang nenek moyangku seorang pelaut, tapi sekarang kita takut dengan laut. Hasil-hasil laut kita bukan kita sendiri yang nikmati. Untuk itulah perlu ada pengembangan wawasan kelautan kita," ujarnya.

Gita berharap agar pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pendidikan kelautan ini. "Paling tidak setiap tahun sekali ada training bagi kaum muda untuk berlayar. Kita kembalikan bangsa kita jadi bangsa maritim," harapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau