Bengkulu, Kompas -
Hal itu dikatakan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Andi Basrul, Jumat (19/11). Tahun 2004 diperkirakan ada tiga badak di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Bengkulu. Namun, berdasarkan hasil pemantauan petugas Rhino Patroli Unit (RPU) yang memantau dan menjaga populasi badak di TNKS wilayah Bengkulu, dikatakan saat ini satwa langka tersebut tidak ada lagi.
Petugas RPU menjalankan tugasnya di Bengkulu selama setahun sampai akhir tahun 2005. Selama itu tidak ditemukan lagi jejak ketiga badak tersebut. RPU saat itu dinilai gagal dan dibubarkan. Untuk penggantinya sudah dibentuk Rescue Project dengan tugas menyelamatkan satwa badak yang tersisa.
Kegagalan itu terlihat dari populasi badak yang pada tahun 1992 diperkirakan 40-60 ekor, lalu tahun 2004 tersisa 2-3 ekor akibat perburuan liar.
Bagi pemburu, kata Andi Basrul, berhasil mendapatkan badak di tengah hutan belantara ibarat seorang pencandu sabu yang terus ketagihan sehingga selalu berupaya mendapatkan satwa tersebut secara rutin.
”Seekor badak dewasa memiliki cula 82 gram dengan harga per gram mencapai puluhan juta rupiah. Itu yang membuat pemburu kecanduan dan makin ketagihan,” ujarnya beranalogi.
Petugas proyek penyelamatan badak beberapa tahun lalu menemukan jejak kaki dan kotoran badak, tetapi badak tersebut tidak ditemukan. ”Atas dasar itu, kuat dugaan badak di wilayah Bengkulu sudah bermigrasi ke TNKS wilayah Jambi,” kata Andi Basrul.
Satwa dilindungi lainnya, seperti gajah, harimau, beruang dan rusa, di wilayah Bengkulu, kata Andi, juga makin terjepit akibat terus berkurangnya