Satwa

Badak Bengkulu Migrasi ke Jambi

Kompas.com - 20/11/2010, 02:49 WIB

Bengkulu, Kompas - Badak sumatera yang hidup di wilayah Provinsi Bengkulu diperkirakan bermigrasi ke hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Jambi, sejak 2005 untuk mencari perlindungan yang lebih aman. Hal itu disebabkan selama ini hewan langka tersebut selalu menjadi sasaran pemburu liar sehingga posisinya di kawasan hutan TNKS Bengkulu kurang aman, kemudian hijrah ke TNKS di wilayah Kerinci, Jambi.

Hal itu dikatakan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Andi Basrul, Jumat (19/11). Tahun 2004 diperkirakan ada tiga badak di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Bengkulu. Namun, berdasarkan hasil pemantauan petugas Rhino Patroli Unit (RPU) yang memantau dan menjaga populasi badak di TNKS wilayah Bengkulu, dikatakan saat ini satwa langka tersebut tidak ada lagi.

Petugas RPU menjalankan tugasnya di Bengkulu selama setahun sampai akhir tahun 2005. Selama itu tidak ditemukan lagi jejak ketiga badak tersebut. RPU saat itu dinilai gagal dan dibubarkan. Untuk penggantinya sudah dibentuk Rescue Project dengan tugas menyelamatkan satwa badak yang tersisa.

Kegagalan itu terlihat dari populasi badak yang pada tahun 1992 diperkirakan 40-60 ekor, lalu tahun 2004 tersisa 2-3 ekor akibat perburuan liar.

Bagi pemburu, kata Andi Basrul, berhasil mendapatkan badak di tengah hutan belantara ibarat seorang pencandu sabu yang terus ketagihan sehingga selalu berupaya mendapatkan satwa tersebut secara rutin.

”Seekor badak dewasa memiliki cula 82 gram dengan harga per gram mencapai puluhan juta rupiah. Itu yang membuat pemburu kecanduan dan makin ketagihan,” ujarnya beranalogi.

Petugas proyek penyelamatan badak beberapa tahun lalu menemukan jejak kaki dan kotoran badak, tetapi badak tersebut tidak ditemukan. ”Atas dasar itu, kuat dugaan badak di wilayah Bengkulu sudah bermigrasi ke TNKS wilayah Jambi,” kata Andi Basrul.

Satwa dilindungi lainnya, seperti gajah, harimau, beruang dan rusa, di wilayah Bengkulu, kata Andi, juga makin terjepit akibat terus berkurangnya kawasan habitat binatang tersebut. (ANTARA/JAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau