Hati-hati Derek Liar di Tol Cikampek

Kompas.com - 20/11/2010, 19:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika Anda berkendara melalui jalan tol Jakarta-Cikampek, waspadalah. Pemeras berkedok derek liar siap memangsa Anda. Pengalaman buruk dialami seorang pengendara yang mengemudikan mobil boks di Tol Cikampek, Kamis (18/11/2010) pagi.

Kepada Kompas.com, Sabtu (20/11/2010) sore, pengemudi yang enggan disebutkan jati dirinya ini mengungkapkan, pada Kamis sekitar pukul 10.00, mobil boks yang dikendarainya melintas di jalur tiga Tol Cikampek antara Bekasi Barat dan Bekasi Timur.

Tiba-tiba di jalur 4, muncul derek liar yang menempel mobil boks ini, memberitahukan pengemudi bahwa ada asap dari tangki bahan bakar. "Waktu itu saya tidak menggubris peringatan itu dan tetap menjalankan mobil boks," kata pengemudi itu. Namun, mobil derek ini tetap memepet paksa mobil boks itu sehingga pengemudi mobil boks terpaksa berhenti di bahu jalan.

Ketika mobil berhenti, dari mobil derek liar keluar tiga lelaki tak dikenal, sementara satu orang lainnya tetap di belakang kemudi. Ketiga lelaki ini langsung menyebar. "Satu orang ke samping kanan sopir, satu orang ke samping kiri, dan satu lagi di belakang. Saya diberi tahu bahwa ada asap di tangki bahan bakar, tapi saya menjawab mobil ini baik-baik saja," cerita korban.

Untuk membuktikan bahwa mobil boks itu dalam kondisi baik, pengemudi menyalakan mesin. "Namun ketika akan masuk gigi dan mobil akan jalan, kopling loss. Satu orang yang berada di belakang rupanya langsung mengait mobil boks untuk diderek. Saya dipaksa masuk ke mobil derek. Dua orang mengapit saya di ruang kemudi. Mobil boks diderek keluar jalan tol Bekasi Timur," papar korban.

Namun anehnya, demikian ungkap korban, petugas derek ini bukannya mencari bengkel terdekat, tetapi malah berputar balik, masuk ke jalan tol kembali dan masuk ke markas derek di Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. "Di tempat itu, saya dipaksa membayar uang Rp 1,35 juta. Ketika saya menghubungi kantor melalui telepon, saya selalu diikuti. STNK dan kir mobil ditahan, bahkan aki pun dilepas," ungkap korban.

Pengemudi mobil boks ini menambahkan, ketika dia melakukan kontak dengan kantornya, pihak penderek memberitahu bahwa mobil boks itu penyebab kecelakaan beruntun di jalan tol. Orang kantor menjawab, "Kalau memang salah, ya diproses saja." Namun pihak kantor mobil boks ini diam-diam menghubungi Polda Metro Jaya.

Di markas derek, pengemudi mobil boks itu dimintai uang untuk membeli pulsa senilai Rp 20.000, uang jaga Rp 20.000, uang menginap Rp 50.000 per malam.

Setelah pihak penderek mengetahui sudah ada kontak antara kantor dan polda, pihak penderek menurunkan tagihan menjadi Rp 350.000. Namun, kantor mobil boks itu tetap tak mau membayar. Bahkan anehnya, mereka menerima pembayaran melalui transfer ke rekening BCA dengan nomor 2732.601.xxxx.

"Saya stres diintimidasi sehingga saya terpaksa membayar pribadi agar mobil boks bisa keluar. Namun, mereka tidak mau memberi kuitansi untuk uang Rp 350.000 itu. Mobil dilepas pukul 10.00 setelah menginap satu malam di markas derek liar itu dan membayar Rp 350.000 kepada mereka," cerita korban yang mengaku heran karena di markas derek liar itu terlihat orang berseragam polisi. Korban juga mengatakan, ciri-ciri mobil derek liar itu berbendera Kopader dan berwarna biru. (MAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau