MAGELANG, KOMPAS.com - Warga Srumbung yang berada pada radius di atas 10 kilometer dari puncak Merapi beraktivitas membersihkan lingkungan dari abu dan pasir Merapi. Beberapa dari mereka juga berencana tidur di rumah, tidak kembali ke lokasi pengungsian.
Srumbung merupakan salah satu wilayah yang menerima dampak cukup besar dari Merapi, yang meletus, setidaknya pada 5 November lalu. Jalan dan selokan dipenuhi abu dan pasir, yang membuat air menggenangi jalan dan jalan bergelombang. Keadaan tak bisa segera diperbaiki karena wilayah itu sempat dinyatakan berstatus awas dan penduduk mengungsi.
Namun, hari ini, radius awas diturunkan menjadi 10 km dari puncak Merapi oleh Badan Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi.Menurut pantauan, sejumlah warga bekerja membersihkan material vulkanik yang memenuhi jalan. Material tak mudah dibersihkan karena sudah mengeras.
Warga membersihkan itu menggunakan air dan cangkul. Material ditumpuk di pinggir-pinggir jalan. "Nanti juga ada truk-truk dari toko material mengangkutnya. Mereka boleh ambil gratis. Yang penting, jalanan cepat kembali normal," ujar seorang warga, Sutrisno.
Siang tadi, Srumbung sempat diguyut hujan cukup deras. Material vulkanik yang masih tebal membuat jalan licin. Ditambah tingkat ketebalan tak merata, sekitar 5-15 sentimeter, jalan itu berbahaya bagi kendaraan, terutama sepeda motor.Sejumlah warga yang mengendari sepeda motor tampak tergelincir, tetapi tak sampai jatuh.