Merayakan Masa Lalu di Taman Fatahillah

Kompas.com - 21/11/2010, 03:29 WIB

Warning. Ingat-ingat! Tjoema Tembaco Shac Tjap Boelan Bintang Njang Toelen”.

Tulisan itu terpampang di sebuah poster yang dipajang di Taman Fatahillah, Sabtu (20/11). Sejumlah poster dengan tulisan ”zaman dulu” semacam itu, berbaur bersama sepeda onthel, andong, becak, dan sepeda motor lawas, menjadi bagian dari Festival Tempodoeloe yang digelar kemarin.

Di sebuah tenda besar, Komunitas Djadoel menggelar koleksi mereka berupa berbagai benda dari tahun 1950 hingga 1970. Radio, telepon, kamera, arloji, jam weker, kaset, celengan, kacamata, dan buku-buku tua yang dipajang seperti ingin membawa pengunjung menuju dimensi waktu yang berbeda: masa lalu.

Festival Tempodoeloe itu menjadi salah satu pembuka rangkaian Gebyar Taman Fatahillah yang diadakan di kawasan Kota Tua, 20 November hingga 12 Desember 2010.

Ramai pengunjung mengambil kesempatan itu untuk berfoto bersama koleksi barang zaman dulu (zadul) itu. Akan tetapi, bagi beberapa pengunjung, nuansa zadul dalam festival tersebut kurang terasa.

”Kalau cuma poster seperti itu dan pajangan koleksi barang zadul, nuansanya kurang terasa,” tutur Arya, salah seorang pengunjung dari Matraman, Jakarta Timur.

Hal senada dituturkan Maharani yang jauh-jauh datang dari wilayah Jakarta Selatan untuk menikmati nuansa zadul di Kota Tua. ”Tidak banyak bedanya dengan hari-hari biasa. Rasa zadulnya tidak terasa, kurang gereget,” ujarnya.

Menurut dia, dekorasi untuk menampilkan Jakarta tempo doeloe sangat sedikit. Tidak ditampilkan semacam gambaran kehidupan masyarakat Jakarta pada tahun 1950-1970 tersebut, baik foto, lukisan, maupun rekaan yang diperagakan para pendukung acara.

Pergelaran wayang

Di bagian lain Taman Fatahillah, panggung wayang sudah disiapkan untuk pergelaran wayang semalam suntuk pada 20-24 November. Diawali dengan pentas wayang potehi kemarin sore, pergelaran wayang menampilkan wayang kulit betawi, wayang dari Malaysia, dan wayang dari Thailand.

Museum-museum yang ada di kawasan Kota Tua menjadi inti dari Gebyar Taman Fatahillah. Mulai kemarin, Balai Konservasi menampilkan koleksi hasil konservasi benda-benda bersejarah, mulai dari bahan kayu hingga logam.

Museum Sejarah Jakarta menampilkan perjalanan sejarahnya yang kini mencapai usia 300 tahun. Bagian yang banyak menarik pengunjung adalah diorama atau patung-patung yang memperagakan hukuman gantung pada masa penjajahan Belanda.

Pada masa itu, tempat tersebut menjadi penjara, tempat penyiksaan, dan lokasi eksekusi para penjahat. Hakim menyaksikan jalannya eksekusi dari lantai atas gedung.

Museum Seni Rupa dan Keramik menjadi tuan rumah pameran tembikar dan pameran lukisan. Di Museum Wayang, selain menampilkan koleksi wayang, digelar pula lokakarya membuat wayang kulit betawi.

Kemarin tampak para peserta dari beberapa SMA yang ada di Jakarta tengah mengukir wayang di atas kulit kerbau. Salah seorang peserta, Wahyu, guru seni rupa SMA Negeri 56 Jakarta Barat, mengatakan, lokakarya itu sangat berguna.

”Saya tertantang untuk mengajarkan pembuatan wayang ini kepada murid-murid. Mereka sudah sangat jarang mengenal hal-hal seperti ini sehingga perlu dikenalkan,” ujar Wahyu.

Berkualitas

Gebyar Taman Fatahillah yang menampilkan beragam kegiatan itu dimaksudkan untuk membuat kawasan Kota Tua semakin berkualitas dan semakin layak menjadi tujuan wisata di Jakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan, berbagai acara semacam Gebyar Taman Fatahillah akan diadakan pada waktu yang akan datang guna meningkatkan kenyamanan pengunjung Kota Tua.

”Untuk mendukung hal itu, kami akan terus bekerja meningkatkan kualitas infrastruktur di kawasan Kota Tua, begitu juga di lingkungan sekitarnya,” kata Arie.

Kesan kumuh dan semrawut masih melekat di kawasan Kota Tua Jakarta. Sampah bertebaran, para pedagang kaki lima yang tidak terlokalisasi dan tertata, tempat parkir sepeda motor yang sembarangan, serta bangunan-bangunan yang kurang terawat membuat orang enggan ke Kota Tua.

”Kalau tidak ada festival atau acara seperti ini, terlihat sekali kumuhnya Kota Tua. Padahal, apa yang ditawarkan kawasan ini sangat menarik, lebih dari sekadar bangunan tua dan museum,” ujar Omen dari Komunitas Djadoel.

Menurut dia, banyak pengunjung Kota Tua yang sekadar datang untuk berfoto ria di depan museum atau bangunan tua lainnya. ”Apa yang sebenarnya ingin disampaikan dengan keberadaan Kota Tua di tempat ini, terutama kepada generasi sekarang, tampaknya belum sampai dengan maksimal,” katanya. (FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau