Di London Lebih Berat

Kompas.com - 21/11/2010, 03:33 WIB

London, Kompas - Bagi Rafael Nadal, menjuarai turnamen tutup musim ATP World Tour Finals jauh lebih berat ketimbang menjuarai seri grand slam. Menurut Nadal, memenangi empat laga menghadapi delapan petenis terbaik dunia membutuhkan ekstra energi.

”Secara pribadi, saya merasa turnamen ini sangat menekan sekaligus menantang,” ujar Nadal yang tampil paling akhir pada sesi round table di Hotel Marriott, London, Jumat (19/11) petang.

Pada turnamen berhadiah total hampir 5 juta dollar itu, Nadal memimpin Grup A bersama Novak Djokovic, Tomas Berdych, dan Andy Roddick. Sementara empat kali juara turnamen ini, Roger Federer, memimpin Grup B bersama Robin Soderling, Andy Murray, dan David Ferrer. Turnamen ini menggunakan sistem round robin.

Musim 2010 ini Nadal melaju menjadi petenis putra terbaik setelah mengalami tahun yang pelik pada 2009. Gelombang cedera dan problem keluarga membuat petenis asal Spanyol itu menjalani musim terburuk ditandai dengan gagalnya mempertahankan gelar di Roland Garros dan mundur dari Wimbledon sebagai juara bertahan.

Setelah menyapu hampir semua turnamen tanah liat kecuali Barcelona, Nadal menancapkan namanya sebagai salah satu legenda dunia dengan merebut gelar Grand Slam AS Terbuka. Ia mengikuti jejak Federer, Rod Laver, dan beberapa nama legendaris lain sebagai petenis yang mampu meraih karier grand slam (merebut empat seri grand slam lengkap).

Nadal mengakui, dia bekerja sangat keras untuk mengakhiri musim dengan kemenangan di London. Problem cedera, kali ini bahu, sempat membuat grafik penampilannya menurun setelah menjadi juara di Flushing Meadows dan mengundurkan diri di Paris. ”Hampir empat pekan saya hanya berlatih dan berharap bisa berbuat yang terbaik di turnamen ini,” ujar Nadal, yang beberapa kali membuat jurnalis terbahak karena selalu menggigit-gigit kulit telapak tangannya yang mengeras. ”Ya..., ya..., ini karena saya banyak latihan beban,” ujar Nadal sambil tertawa.

Sebelumnya, Federer yang mejanya juga disesaki wartawan mengakui, musim 2010 adalah musim yang layak dilupakan. Tidak saja karena posisi nomor satunya direbut kembali oleh Nadal, tetapi dari sisi standarnya yang tinggi, tahun ini boleh dibilang gagal.

”Saya bukan tipe pengeluh, tetapi musim kompetisi yang sangat padat membuat petenis sekarang lebih cepat didera kelelahan luar biasa,” papar Federer. ”Empat pekan jeda rasanya memang sangat menekan. Enam pekan mungkin jauh lebih baik, tapi delapan pekan akan sangat hebat,” papar Federer. ”Sejauh ini tubuh saya memang belum terlalu menjerit untuk minta jeda. Namun, permainan tenis semakin lama makin membutuhkan fisik yang prima. Saya sendiri tetap menyisakan energi untuk tampil terbaik di London,” papar petenis peringkat dua yang mengoleksi rekor grand slam 16 ini.

Termasuk petenis paling senior di turnamen ini bersama Andy Roddick, Federer mengawali musim ini dengan kemenangan di Melbourne Park. Namun, setelah itu dia kehilangan gelar Wimbledon dan Perancis Terbuka serta gagal menembus babak final AS Terbuka.

”Sungguh, menjadi nomor satu tetap tantangan yang unik. Memang sulit karena Nadal sedang bagus-bagusnya,” lanjut Federer yang terlihat tidak pernah kehilangan gairah untuk terus menjadi yang terbaik.

(Anton Sanjoyo dari London, Inggris)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau