Perpisahan dan Kebersamaan

Kompas.com - 22/11/2010, 09:41 WIB

Membentuk relasi yang bertahan lama merupakan kegiatan yang sulit karena menuntut kapasitas untuk menjaga keseimbangan antara penghayatan perasaan personal sebagai ”aku” dan penghayatan perasaan kebersamaan pasangan sebagai ”kami”. Tarikan kedua arah ”keakuan-kekamian” tentu saja sangat kuat.

Pada satu sisi kita ingin menjadi individu yang terpisah, berdiri sendiri, artinya menjadi seseorang yang mampu memperoleh kepuasan atas upaya diri sendiri, tetapi di sisi lain kita mencari keterikatan dan keintiman dengan orang lain, seperti halnya perasaan memiliki dan dimiliki dalam ikatan perkawinan, keluarga, atau kelompok. Hal yang perlu kita cermati adalah apabila pasangan perkawinan berada dalam rentang ketidakseimbangan perpisahan dan kebersamaan, maka pasangan tersebut menghadapi masalah yang cukup serius sehingga perlu kita kaji bersama sebagai berikut:

Timbul pertanyaan, apa yang terjadi apabila kebersamaan dalam penghayatan kekamian tidak mencukupi kebersamaan relasi pasangan? Hasilnya tentu saja dapat dikatakan sebagai perkawinan yang mengalami perceraian emosional. Pasangan terisolasi walaupun tetap berada dalam kancah perkawinan, tetapi masing-masing merasa sendiri dan mereka tidak berbagi dalam pengalaman dan perasaan personal.

Apabila kekamian menjadi sangat langka, maka akan berkembang sikap: ”saya tidak butuh kamu” yang akan diekspresikan baik oleh salah satu maupun keduanya, di mana posisi kedua pasangan berada dalam posisi benar-benar otonom walaupun tinggal dalam satu atap. Mungkin saja terjadi pertengkaran kecil dalam situasi ini. Namun, seandainya mereka berbaikan, hanya sedikit kedekatan yang bisa terjalin di antara mereka.

Bagaimana halnya apabila keakuan tidak cukup dalam interelasi yang terbina antar-keduanya? Dalam situasi ini, keduanya mengorbankan identitas diri yang mengakibatkan rasa tanggung jawab terhadap diri sirna. Keduanya kehilangan kontrol diri dan banyak energi tersedot untuk berkorban demi pasangannya. Mereka berupaya sekuat tenaga untuk mencoba mengubah perilaku pasangannya. Kedua pasangan akan merasa lebih bertanggung jawab terhadap perolehan kenyamanan pasangannya daripada kenyamanan dirinya sendiri.

Untuk itu, apabila dinamisitas rasa tanggung jawab personal terhadap pemenuhan kenyamanan pasangan menjadi hal yang utama, setiap pasangan akan bereaksi dengan sangat emosional terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan pasangannya. Jadi, peluang sering terjadinya pertengkaran justru menjadi sangat besar karena mereka akan dengan cepat mencari kesalahan pasangannya. Andai terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, akan terungkap kalimat: ” Ah, rasanya saya sudah upayakan segala macam cara dalam bersikap, tetapi dia tidak pernah menghargai usaha saya dan tidak pernah mau mengubah sikapnya.”

Hal lain yang merupakan hasil dari kebersamaan yang eksesif adalah kekamian yang seolah terkesan harmonis (”pseudo harmonious”), yang ditandai oleh jarang terjadinya konflik dalam perkawinan. Misalnya, karena salah satu pasangan bersikap submisif dengan cara selalu menerima dominasi pasangannya atau keduanya berperilaku seolah telah saling berbagi berbagai masalah dalam kehidupan perkawinan mereka.

Kondisi semacam ini sebenarnya sangat mudah dipahami karena dorongan untuk menyatu dalam kebersamaan sifatnya sangat universal. Namun, kecenderungan untuk mengarah pada fusi penyatuan diri yang ekstrem menjadi sangat luar biasa. Relasi yang demikian membuat posisi kedua pasangan menjadi sangat rentan terhadap kemungkinan runtuh. Karena, apabila kedua orang secara ekstrem menjadi satu, perpisahan bisa dirasakan sebagai kematian psikis dan fisik. Artinya, keduanya serasa tidak memiliki apa pun, bahkan diri, untuk bangkit apabila relasi menyatu yang artinya sangat penting tersebut terpaksa harus berakhir, misalnya bila salah satu pasangan meninggal dunia.

"Aku” dan ”Kami”

Dari uraian di atas kita dapat simpulkan bahwa setiap pasangan perkawinan membutuhkan keduanya, ”aku” dan ”kami”, dalam porsi yang berimbang sehingga memberikan makna yang berarti bagi aspek personal tiap pasangan.

Timbul pertanyaan lanjut, bagaimanakah cara menyeimbangkan keakuan dan kekamian yang mantap dan membahagiakan kedua pasangan? Salah satu cara praktisnya adalah: seandainya kita dihadapkan pada perasaan marah dan tidak nyaman yang kronis dalam suatu relasi perkawinan, rasa marah dan tidak nyaman tersebut adalah pertanda bahwa kita harus memperjelas dan meningkatkan penguatan penghayatan ”aku”.

Kita harus melakukan evaluasi diri untuk mendapatkan apa yang sebenarnya kita pikirkan, rasakan, dan inginkan serta perubahan dalam cara berinteraksi yang mana yang sebenarnya kita butuhkan dalam kehidupan perkawinan ini? Semakin kita lebih menghayati kejelasan posisi ”aku” dalam kebersamaan dengan pasangan, semakin nyamanlah penghayatan dan kenyamanan keintiman dan kesendirian dalam ikatan perkawinan.

Keintiman hakiki yang kita raih dalam perkawinan tidak berarti bahwa antarpasangan harus selalu bersama hingga kedua pasangan kehilangan jati diri. Artinya kesendirian dan kebersamaan dalam ikatan perkawinan yang sehat tidak menyertakan penghayatan keterpisahan dalam jarak yang dimaknakan sebagai isolasi.

Untuk itu, kesediaan kita mengubah persepsi tentang konflik antarpasangan yang terjadi sangat dibutuhkan karena melalui sesekali pertengkaran bahkan sesekali saling menyalahkanlah kadang-kadang justru menjadi ajang protes dan proteksi diri bagi pertahanan keakuan dalam batasan jalinan kekamian.

Nah, sejauh mana kita sudah berupaya menyeimbangkan rentang keakuan dan kekamian demi terjaganya hakikat harmoni antara perpisahan dan kebersamaan dalam relasi dengan pasangan perkawinan kita?


Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau