Bandung,Kompas -
”Menggunakan mobil Bogi Power Car, tim UNY unggul di uji tanjakan, uji percepatan, dan uji efisiensi,” kata ketua panitia Kartono Wijayanto.
Kartono mengatakan, juara kedua diraih tim tuan rumah, Rex Team, dengan mobil Ngomex. Tim beranggotakan Fauzan Abu Bakar, Frizky Dwi Fachrizal, Gilang Denik Prasetyo, dan Jati Jatnika ini menang di uji percepatan.
Juara ketiga direbut Politeknik Caltex Riau dengan kendaraan listrik BM MECH 02. Tim beranggotakan Robert Kumbara, Noprialdy, Muhammad Randy, dan Andra Hafidz ini unggul di uji kecepatan.
”Kompetisi ini berjalan lebih ketat ketimbang tahun kemarin. Hal ini terbukti dari persaingan angka yang ketat di antara tujuh peserta,” kata Kartono.
Kartono mengatakan, tingkat penguasaan teknologi pun terlihat lebih maju. Contohnya aplikasi baru yang diterapkan Tim Mobil Listrik UNY. Untuk penggerak, UNY menggunakan tiga motor sekaligus. Hasilnya, mobil bergerak lebih cepat dan efisien. Tim ini juga berinovasi dengan isi ulang bahan bakar listrik saat mobil melaju (autocharge).
Kartono berharap peserta bisa lebih kreatif membuat mobil listrik. Bila kini banyak mobil listrik dibuat dari hasil rakitan mekanik, ia berharap tahun depan peserta bisa membuat sendiri komponen vitalnya, baik rangka, motor, maupun komponen elektronik lain.
”Kami berharap hal itu bisa merangsang keikutsertaan mahasiswa dari bidang keilmuan lain untuk berkreasi membuat mobil listrik,” kata Kartono.
Pembimbing Rex Team Duddy Yanpurnadi mengaku terkejut meraih juara kedua. Persiapan timnya terbilang sempit dan mobil mereka diyakini masih butuh banyak perbaikan.
Duddy berharap, beberapa kelemahan yang terasa dalam kompetisi ini bisa segera diperbaiki, di antaranya masalah pengereman, efisiensi energi listrik, dan mobil rangka yang rencananya didesain untuk dua penumpang.
Meski tidak mendapatkan titel juara, Revlek Team, yang juga dari Politeknik Negeri Bandung, tidak berkecil hati. Di beberapa kategori, tim ini masih mampu bersaing, dengan menjadi peringkat kedua di uji percepatan, peringkat III uji tanjakan, dan peringkat II di uji pengereman.
Prasetyo, pembimbing Revlek Team, mengatakan, perbaikan wajib dilakukan sebagai persiapan turun dalam kompetisi serupa di Universitas Brawijaya Malang akhir tahun ini. Tim harus memperbaiki kelemahan pada motor penggerak, kontrol mobil, dan alat penggerak mekanis.
”Semangat kami tetap tinggi untuk membesarkan mobil berbahan bakar listrik. Pemicunya karena kendaraan ini adalah masa depan transportasi tanpa polusi dan hemat energi,” kata Prasetyo.