Kelangkaan Diprediksi Mulai Desember

Kompas.com - 23/11/2010, 05:36 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Pasokan bahan bakar minyak jenis premium bersubsidi di Bandung dan sekitarnya mulai Desember diperkirakan makin langka. Ini merupakan dampak uji coba pengu-rangan pasokan premium 6 persen ke setiap stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).

Nanang Iskandar Ma’soem, pengelola Ma’soem Group, yang membawahkan sekitar 37 SPBU di Jawa Barat, Senin (22/11) di Bandung, mengatakan, pengurangan pasokan BBM premium dari Pertamina berpotensi menyebabkan kelangkaan. ”Saat ini memang belum ada kepanikan masyarakat memborong BBM. Tapi, awal Desember hal itu akan terjadi. Apalagi, sudah ada penegasan dari Menko Perekonomian tentang kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi mulai 2011,” ujarnya.

Sejauh ini permintaan BBM relatif stabil. Hanya, ia mencermati, ada peralihan konsumsi 10 persen dari premium ke pertamax secara perlahan.

Namun, kondisi itu belum mencerminkan penipisan stok premium dan BBM bersubsidi lain. Bagi Nanang, peralihan tersebut lebih disebabkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap BBM nonsubsidi yang mulai meningkat.

Berdasarkan surat edaran yang diterima dari Pertamina, BUMN pemonopoli minyak dan gas di Indonesia tersebut akan mengurangi pasokan 5-6 persen secara merata untuk semua BBM bersubsidi, seperti premium, solar, dan minyak tanah. Karena itu, kelangkaan terjadi karena tidak ada keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan.

”Saya setuju dengan kebijakan mendorong penggunaan BBM nonsubsidi. Sudah saatnya BBM nonsubsidi digalakkan bagi masyarakat kelas atas,” katanya.

Harus sosialisasi

Hal serupa disampaikan Dod- dy (37), pengusaha SPBU di Kota Bandung. Ia menilai pengurangan pasokan premium berpotensi memicu gejolak masyarakat. Ini juga hanya akan menguntungkan SPBU bermodal besar yang mampu menyediakan premium bersubsidi dalam jumlah banyak.

”Selain itu, seharusnya saat ini pemerintah sudah mulai menyosialisasikan kebijakan ini kepada masyarakat untuk mencegah kepanikan konsumen nanti,” kata Doddy.

Ketua DPD III Hiswana Migas Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten M Ismeth berpendapat, kelangkaan BBM subsidi di Jawa Timur sudah dirasakan karena uji coba pengurangan 6 persen ke SPBU dilakukan dengan pola harian. Adapun untuk Jabar, Banten, dan Jakarta, pengurangannya menggunakan pola bulanan sehingga baru akan terasa awal Desember.

Ia juga menilai kelangkaan premium tidak akan otomatis menggiring masyarakat meng- alihkan penggunaan premium ke bahan bakar khusus (BBK) nonsubsidi. Sebab, selain perbedaan harga yang cukup signifikan, infrastruktur untuk BBK masih minim. Ia mencontohkan, dari 169 SPBU di Bandung dan Sumedang, hanya 30 persen di antaranya yang menjual BBK.

”Padahal, tambahan BBK butuh waktu 1-2 bulan. Selain membuat tangki tanam, harus dipasang pompa dan kanopinya. Belum lagi biayanya minimal Rp 400 juta,” ujar Ismeth. (GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau