JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memastikan volume bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi yang akan terpakai hingga akhir tahun 2010 mencapai 38,7 juta kilo liter atau kl. Itu berarti terjadi lonjakan sebesar 2,2 juta kl dari target awal yang ditetapkan dalam APBN Perubahan atau APBN-P 2010 sebesar 36,5 juta kl.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Selasa (23/11/2010) usai memimpin Rapat Koordinasi Terbatas tentang Pembatasan BBM. Hadir dalam rapat tersebut Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Evita Legowo. Menteri ESDM Darwin Zahedi Saleh sendiri tidak hadir karena masih menjalankan ibadah Haji.
Menurut Hatta, kenaikan volume BBM bersubsidi tersebut tidak akan menambah anggaran subsidi BBM, karena nilai tukar rupiah yang masih ada di bawah level asumsi APBN-P 2010 yakni lebih kuat dari Rp 9.200 per dollar AS. Begitu juga dengan asumsi harga jual minyak mentah Indonesia (ICP) yang masih lebih rendah dari asumsi APBN-P 2010 yakni 80 dollar AS per barrel.
"Sudah kami perhitungkan, tidak akan ada kenaikan anggaran subsidi pada 2010, karena biaya pembelian BBM tidak bertambah akibat menguatnya nilai tukar rupiah. Kenaikan volume BBM bersubsidi itu sudah kami perkirakan karena pada tahun 2009 saja volumenya sudah mencapai 36 juta kl. Kalau ditambah dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, maka volumenya memang akan ada di level 38 juta kl," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang