Asimilasi Warna Asia untuk Tren Kosmetik 2011

Kompas.com - 23/11/2010, 15:49 WIB

KOMPAS.com - "Saya ingat, pada tahun 1987, saat itu saya menyaksikan pentas wayang orang, saya lihat warna riasan wajah mereka begitu pekat. Begitu saya tanya, ternyata mereka menggunakan sirih, kunyit, dan untuk eyeshadow, mereka pakai arang. Saat saya ajak bicara, mereka pakai macam-macam riasan yang tak jelas, hasilnya, kulit mereka mengelupas dan rusak. Mereka pun bilang sama saya untuk buatkan riasan, lalu saya coba buat. Terinspirasi dari warna riasan mereka, saya ciptakan Tren Warna Sariayu yang pertama, Senja di Sriwedari," begitu cerita Dra Martha Tilaar pada konferensi pers Tren Warna Sariayu ke-25, di Orient 8, Hotel Mulia Senayan, Senin (22/11/2010).

Tak bisa dipungkiri, kebudayaan yang mengakar pada masyarakat Indonesia, sebagai mengalami proses asimilasi dengan kebudayaan asing. Hal-hal tersebut kemudian mencipta suatu budaya baru, jika tidak menambah khasanah yang sedikit berubah pada budaya asli kita. Proses asimilasi ini, dan keragaman dari masyarakat Indonesia yang begitu luas menjadi inspirasi Sariayu untuk menciptakan Tren Warna ke-25 di tahun 2011 yang diberi tajuk "Exotic Indonesia: The Colors of Asia".

Selama ini, Sari Ayu selalu menggunakan satu inspirasi dari keindahan alam dan budaya Indonesia sebagai tren warnanya. Namun, di kali ke-25 Tren Warna Sariayu, tim artistik Martha Tilaar menciptakan 4 tren warna untuk dipilih.

"Untuk menciptakan tren warna, juga karena kami mulai berekspansi ke luar negeri, kami mengikuti tren-tren warna yang ada di luar negeri sebagai acuan. Dari pengamatan kami, tahun 2011 nanti, warna yang menjadi tren cukup beragam dan banyak. Ada ungu, marun, hijau, kuning kecokelatan, dan hijau lumut. Karena itu, kami memutuskan mengeluarkan 4 tren warna, selain kami juga mencoba memberikan sesuatu yang berbeda di usia seperempat abad tren warna kami," jelas Patricia Husada, Marketing Manager Sariayu Martha Tilaar.

Keempat tren warna yang ditawarkan adalah;
Dendang Rebana
Rebana terlihat dalam alat-alat musik tepuk di acara-acara adat Betawi, seperti Marawis, Tanjidor, Samrah, dan Palang Pintu. Alat musik ini ternyata berasal dari Timur Tengah yang dibawa oleh bangsa Arab, Persia, dan Gujarat yang berlabuh di Sunda Kelapa. Warna yang ditawarkan, hitam keunguan, pink, dan hijau.

Petikan Sitar
Pengaruh India sudah lama masuk ke Indonesia, contohnya alat musik sitar, yang kemudian berkembang menjadi alat musik sasando dari Timor hingga Sampek dari Kalimantan. Eksotisme sitar dari India tercermin dalam warna-warna coklat keabuan, krem, dan cokelat muda, serta warna bibir yang marun.

Alun Serunai
Serunai diperkirakan merupakan alat musik tiup yang tertua, karena sudah digunakan sejak zaman Mesir Kuno. Kemudian ia berkembang menjadi alat musik lain, seperti oboe, klarinet, dan bisa jadi seruling. Warna-warna seperti jingga, hitam kehijauan, dan kuning menjadi bagian dari koleksi ini.

Denting Kecapi
Diperkirakan datang dari China. Berkembang di daerah Cirebon. Konon, alat musik petik ini diperkenalkan oleh Puteri Ong Tin, putri kaisar China yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Bias warna oriental terwujud dalam warna-warna ungu, marun, dan pink muda.

Koleksi-koleksi ini diperkaya dengan ekstrak buah delima yang mengandung antioksidan dan tabir surya yang melindungi kulit dan bibir. Ditambahkan pula mineral amethyst powder untuk merawat tekstur kulit dan bibir, sekaligus menyamarkan pengaruh buruk akibat stres, juga vitamin E sebagai pelembap. Masing-masing koleksi ini akan terdiri dari eyeshadow (Rp 28.000), liquid lip color (Rp 35.000), serta lipstick (Rp 28.000). Setiap pembelian kosmetik dari tren warna Sariayu 2011 ini, berarti Anda sudah menyumbangkan Rp 500 untuk pelestarian biodiversitas kelautan Indonesia yang dilangsungkan oleh WWF.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau