CINANGKA, KOMPAS.com - Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tidak bisa mencatat secara maksimal kegempaan yang terjadi, sejak salah satu alat komponen penangkap gempa tidak berfungsi.
"Betul, sejak salah satu komponen Seismometer atau alat penangkap gempa, yaitu Solar Panel tidak berfungsi, kami hanya mencatat kegempaan GAK pada 22 Nopember dari pukul 00:00 sampai 21:31 WIB saja," kata kepala Pos Pemantau GAK, Anton S Pambudi, Selasa (23/11/2010).
Menurut data yang terekam pada Senin (22/11) kemarin katanya, untuk vuklanik dalam (VA) satu kali, vulkanik dangkal (VB) dua kali, letusan 33 kali, tremor letusan 33 kali, tremor harmonik satu kali, hembusa 22 kali.
"Dengan demikian total kegempaan GAK sepanjang hari Senin sampai dengan pukul 21:31 WIB, hanya mencapai angka 78, karena setelah waktu itu, alat yang penangkap kegempaan tidak bisa membaca dan berfungsi seperti biasanya," katanya.
Meski kegempaannya, tidak tercatat secara keseluruhan namun, Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung di Jawa Barat masih menetapkan GAK berstatus waspada atau level II.
"Statusnya masih level II, dan ketinggian asap yang terpantau sangat jelas, antara 500 sampai 800 meter, dengan warna aspa kelabu menuju ke utara," katanya menambahkan.
Diketahui, Pos Pemantau GAK kesulitan untuk mengetahui jumlah kegempaan yang terjadi di gunung itu karena kerusakan di panel surya yang selama ini memasok sumber listrik untuk Sismometer atau alat menangkap getaran gempa.
"Sejak kemarin (Senin, 22/11), solar panel (panel surya) yang merupakan rangkaian dari Sismometer atau alat menangkap gempa GAK tidak berfugsi," kata Anton.
Dia menjelaskan, panel surya itu yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau itu tidak berfungsi karena tertutup debu vulkanik yang disemburkan Gunung Anak Krakatau. Gunung itu sudah melakukan aktivitas kegempaan pada level II atau waspada.
"Jarak Solar Panel dari lokasi gempa itu sekitar 200 sampai 300 meter, dan selama status GAK naik dari aktif normal ke waspada, sejak tanggal 28 Oktober lalu, debu vulkanik yang menutup Solar Panel semakin tebal, sehingga tidak bisa menyerap sinar matahari, dan akhirnya berfungsi mensuplai listrik untuk alat itu," katanya.
Solar Panel bisa kembali berfungsi jika sudah bersih dari debu, sementara pihaknya tidak bisa mendekat dan melakukan pembersihan terhadap alat yang memiliki panjang satu meter dan lebar setengah meter tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang