”Each consciousness pursues the death of the other.”
– Hegel
Yang tak terekam dalam foto itu adalah hujatan, hinaan, dan kata-kata yang melecehkan. Sumiati merintih karena martabat dan keluhurannya sebagai manusia dilenyapkan. Filsuf Hegel menegur, setiap kesadaran manusia hampir selalu mengharapkan kematian liyan. Majikan menganiaya pembantu. Bangsa ini kasihan kepada korban, tapi menampilkan nurani acuh, sepi. Seolah kita melihatnya dan berkata, itu sekadar sebuah nasib. Kesadaran kita pun telah tumpul.
Paradoksal benar perlakuan kita terhadap TKI. Ia atau mereka baru kita kenali sesudah wajahnya babak belur, terpampang di surat kabar. Pengetahuan kita tentang mereka seolah
Sebelum penganiayaan seolah tak pernah ada seorang Sumiati. Sumiati tertindas di era poskolonialisme (baca: pasca-penindasan). Ia dianiaya majikan di negeri orang, serta terdepak dari penghargaan dan perlindungan negeri sendiri. Mungkin logikanya demikian: di negeri sendiri tak dihargai, apalagi di negeri orang. Di negara kita TKI identik dengan yang tersisihkan. Mereka tak mendapat pembekalan memadai, tak bisa berbahasa asing, tak difasilitasi secara manusiawi, tak bisa membela diri.
Liyan adalah konsep ontologis etis. Dalam liyan dipertaruhkan nilai keluhuran manusia. Dalam buku
Ungkapan ini mengatakan sebuah protes keras terhadap perlakuan
Artinya, perempuan sebenarnya teraniaya, terpenjara, terdepak dari segala pengakuan kesederajatan luhur dan indah. Tubuh perempuan bukan miliknya, tetapi milik
Ia tak dapat lari dari penindasan, tak seperti laki-laki. Sampai kini, berapa puluh (atau ratus) TKI perempuan yang telah dan sedang dihajar majikannya. Yang paling dramatis penganiyaan keji di Malaysia, Arab Saudi (dan Timur Tengah). Kita mendapati mereka seolah makhluk lemah, menyerah, pasrah.
Analisis De Beauvoir menegur kita. Perempuan telah cukup lama dalam keterkungkungan. Pendidikan pun seolah bukan hak mereka. Kebebasan dan otonomitas jadi barang terlarang. Dengan mudah mereka dimaksudkan
Selanjutnya, menjadi manusia yang tak pernah mandiri, melainkan tergantung dan terikat. Mereka ada seakan-akan berada di pinggiran kehidupan sehari-hari. Belum lagi, mereka rentan subyek (tunduk) pada kekerasan, manipulasi, perbudakan, dan penganiayaan di dalam rumah tangga. Tidakkah
Sungguh sebuah ironi. Ironi peradaban negara di mana Sumiati dianiaya. Ironi peradaban juga di negara dari mana Sumiati berasal. Ia teraniaya dan makin parah penganiayaannya oleh kealpaan dan netralitas sikap hati bangsa ini yang tak jelas.
Media pun ramai-ramai menempatkan di berita utama. Sayangnya, mereka telah melupakan wajah Sumiati, produk dari