Soal Garuda Tuntas Dua Hari

Kompas.com - 24/11/2010, 03:16 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memperkirakan, proses penyelesaian masalah teknis yang mengganggu jadwal penerbangan Garuda Indonesia akan selesai dalam dua hari. Ini berarti masalah Garuda diperkirakan tuntas pada Kamis (25/11).

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Selasa, mengatakan, ”Saya sudah berbicara dengan Direktur Utama Garuda Indonesia (Emirsyah Satar). Mereka sedang melakukan perubahan sistem yang baru agar jadwal dan sistem pengaturan kru (anak buah pesawat) lebih baik. Keterlambatan sendiri paling hanya akan terjadi sampai dua hari ke depan. Dua hari sudah selesai.”

Dengan beragam masalah yang sedang dihadapi Garuda saat ini, Hatta yakin tidak akan ada gangguan pada rencana pelepasan saham perdana (initial public offering/IPO) Garuda. Sebab, terganggunya jadwal pesawat Garuda, seperti keterlambatan dan pembatalan penerbangan sejak Minggu hingga saat ini, hanya disebabkan bermasalahnya proses transisi sistem operasional lama ke sistem baru.

Hatta mengatakan, pembenahan memang harus dilakukan dengan cepat dengan menginformasikan dengan tepat kepada publik apa yang sebenarnya terjadi. ”Ini penting, publik mengetahui apa yang sebetulnya diketahui, dan kalau Garuda melakukan perubahan sistem, itu bisa terjadi hal seperti itu. Ini harus cepat diatasi. Kalau tidak dijelaskan kepada publik, itu merugikan. Apalagi, Garuda mau IPO, kan, persaingan semakin ketat,” ujarnya. Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menegaskan, pada Rabu ini maskapai nasional tersebut tetap akan menggunakan sistem manual untuk pengaturan pesawat dan awak kapal. Meski demikian, keterlambatan dan pembatalan penerbangan berangsur-angsur berkurang.

”Hari Selasa kemarin dilaporkan hanya ada dua kali pembatalan penerbangan. Kami bekerja keras mengatasi keadaan,” kata Emirsyah, Selasa malam, seusai penandatangan bergabungnya Garuda dalam aliansi penerbangan ”SkyTeam”.

Soal angka kerugian, Emirsyah mengatakan, tidak ada kerugian apabila pesawat itu dibatalkan penerbangannya. Sebab, tidak ada biaya operasional yang dikeluarkan untuk menerbangkan pesawat meski Emirsyah mengakui, terdapat kehilangan pendapatan potensial.

Karena Garuda menerbangkan 11 juta penumpang per tahun, dapat dihitung secara manual bahwa penutupan reservasi selama dua hari setidaknya menghilangkan potensi pendapatan Rp 30 miliar, dengan asumsi harga tiket per penumpang Rp 500.000.

Terkait perbaikan sistem, VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto mengatakan, perbaikan telah 80 persen. ”Sebenarnya, baik hardware (perangkat keras) maupun software (perangkat lunak) dari Integrated Operation Control System itu berjalan baik. Hanya saja, pada hari Minggu kemarin diketahui ada kabel yang copot. Nah, sistem tak terkoneksinya selama empat jam yang menyebabkan gangguan,” kata dia.

Laporan dari daerah, terjadi pembatalan tiga penerbangan Garuda dari Palembang, Sumatera Selatan, ke Jakarta. Sebaliknya, terjadi lima pembatalan penerbangan Garuda dari Jakarta ke Palembang.

General Manager Garuda Indonesia Palembang Ryanto Adi Winarso mengatakan, sejumlah penerbangan dari Jakarta ke Palembang ataupun dari Palembang ke Jakarta pada hari Rabu ini juga masih mengalami pembatalan. Diharapkan pada hari Kamis sudah tidak ada pembatalan penerbangan.

Pembatalan atau gangguan penerbangan Garuda juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Dua penerbangan dari Makassar menuju Ambon dan Manado yang terlambat hingga lebih dari tiga jam menyebabkan puluhan penumpang telantar.

Pelaksana Harian Station Manager Garuda Indonesia Makassar Reni Astuti mengatakan, penerbangan GA 602 jurusan Jakarta-Makassar-Manado dan GA 640 dengan rute Jakarta-Makassar-Ambon tertunda selama tiga jam hingga pukul 16.30 Wita.

Meskipun mendapat kompensasi makan siang, sejumlah penumpang mengeluhkan kondisi ini. Wahyudi (39), penumpang tujuan Manado, menilai, pengelola maskapai seharusnya memberi tahu soal penundaan di luar kewajaran ini. ”Mereka, kan, pasti sudah tahu bahwa pesawat dari Jakarta akan terlambat. Mengapa tidak segera memberi tahu kami?” tuturnya.

Baluki Ahmad, Ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji kepada wartawan Kompas H Kenedi Nurhan di Madinah, Arab Saudi, mengemukakan, pihaknya akan menuntut pihak Garuda agar menanggung sepenuhnya biaya transportasi dan akomodasi para jemaah yang telantar di Jeddah, Arab Saudi, menyusul molornya jadwal kepulangan mereka ke Tanah Air hingga lebih dari 20 jam. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, tidak tertutup kemungkinan akan dimajukan tuntutan hukum.

Sejak Sabtu hingga Selasa baru sekitar 2.000 jemaah bisa diangkut pihak Garuda. Rombongan jemaah dari biro penyelenggara haji dan umrah Mega Citra, misalnya, baru diberangkatkan setelah lebih dari 30 jam terkatung-katung di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Penundaan penerbangan-penerbangan awal pemulangan jemaah berakibat pada penundaan jadwal-jadwal berikutnya dan membuat antrean jemaah yang akan dipulangkan kian panjang. (RIZ/pin/WAD/RYO/OIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau