Kisruh garuda

Menhub Kecewa Kinerja Garuda

Kompas.com - 24/11/2010, 15:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perhubungan Freddy Numberi secara terbuka mengaku kecewa terhadap kinerja pelayanan PT Garuda Indonesia dalam beberapa hari terakhir.

"Secara pribadi, saya kecewa," katanya menjawab pers di sela Penyerahan Penghargaan Penilaian Unit Pelayanan Publik di lingkungan Kementerian Perhubungan.

Penegasan tersebut terkait dengan kacaunya pelayanan penerbangan PT Garuda Indonesia sejak 21 Nopember 2010 akibat gagalnya sistem integrasi pelayanan maskapai itu.

Oleh karena itu, pihaknya sedang mengkaji kemungkinan memberikan sanksi kepada maskapai pelat merah itu. "Nanti kita lihatlah (kemungkinan sanksi, red)," katanya.

Freddy menyatakan, operator transportasi seperti Garuda seyogyanya transparan kepada publik terkait pelayanannya. "Jadi, harus tranparan disampaikan dulu ke publik. Karena akibat dari gagalnya sebuah sistem, penumpang yang terkena," katanya.

Karenanya, sebuah sistem baru itu, lanjutnya, harus dikomunikasi dulu, diujicoba dulu agar hasilnya maksimal.

Freddy berharap kejadian serupa tidak terulang lagi dan Garuda harus menjadi contoh yang lebih baik ke depan.

Prinsip pelayanan jasa transportasi saat ini dan ke depan, tegasnya, setidaknya harus memenuhi tiga persyaratan yakni, transparan, akuntabel dan melibatkan partisipasi publik.

Ditanya apakah ada kemungkinan kejadian itu disabotase. Ia hanya mengatakan, "Saya juga terima laporan seperti itu". Namun, dia berharap, dugaan itu tidak benar.

Dirjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Herry Bakti S. Gumay, sebelumnya mengungkapkan, pihaknya mempertimbangkan pengurangan frekuensi penerbangan maskapai itu. "Jika sampai besok (25/11/2010) seperti yang dijanjikan Garuda, pulih, tetapi ternyata hanya mampu 75 persen kapasitasnya, maka ya sebesar itu yang akan kita berikan," katanya.

Sebelumnya, Dirut PT Garuda Indonesia memperkirakan, sistem akan pulih sekitar 100 persen pada Kamis (25/11/2010) dan karena itu, reservasi tiket hingga 24 November 2010 ditutup sementara.

Sistem pelayanan terintegrasi Garuda, mulai dari monitoring pergerakan pesawat, kru dan lainnya kacau sejak 19 November 2010.

Sistem yang diberi nama "integrated operational control system" (IOCS) yang diberlakukan sejak 18 Nopember 2010 itu, pada 19 Nopember 2010 "down" sekitar empat jam.

Puncak efek berantainya terjadi pada 21 November 2010 sehingga ratusan penerbangan Garuda di berbagai bandara kacau, delay berkepanjangan hingga dibatalkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau