Seniman Gagas Dewan Kesenian Indonesia

Kompas.com - 25/11/2010, 02:48 WIB

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com--Silaturahmi seniman dari 12 Dewan Kesenian (DK) tingkat provinsi di Lampung  berupaya mewujudkan gagasan pembentukan Dewan Kesenian Indonesia dan penguatan landasan hukum dewan kesenian.

Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung, Syaiful Irba Tanpaka, di Bandarlampung, Rabu, mengatakan silaturahmi yang digagas Dewan Kesenian Lampung terkait dengan acara "Lampung Arts Festival" itu menggagas kembali ide yang pernah dilontarkan pada 2005 tersebut.

"Membentuk dewan kesenian Indonesia yang bermitra langsung dengan Presiden adalah penting untuk wadah perjuangan di tingkat pusat sekaligus menjembatani aspirasi dewan kesenian di daerah," kata dia.

Selain itu, dia melanjutkan, keberadaan Dewan Kesenian Indonesia juga dianggap penting untuk memfasilitasi dan sarana katalisasi lewat hubungan kerja antardewan kesenian secara produktif.

Selain itu, sejumlah masalah yang juga menjadi prioritas pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan peran dan fungsi dewan kesenian dengan cara peningkatan dasar hukum dewan kesenian dari Instruksi Mendagri Nomor 5A tahun 1993, menjadi Peraturan Presiden.

Silaturahmi dewan kesenian secara berkala hingga saat ini belum dapat diwujudkan.

Pertemuan masih dilakukan secara sporadis pada 1999 di Yogyakarta, dan baru kembali diadakan pada 2005 di Papua, yang sebelumnya juga diselenggarakan kongres kesenian Indonesia II di padepokan pencak silat TMII.

Wacana pembentukan Dewan Kesenian Indonesia pertama kali mengemuka pada 2008 oleh Dewan Kesenian Jakarta, yang dilanjutkan pada 2009 di Malang, Jawa Timur.

Silaturahmi dewan kesenian se-Indonesia yang diadakan di Lampung, diikuti oleh 12  provinsi, yaitu Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Lampung.

Acara itu diadakan berbarengan dengan "Lampung Arts Festival" yang diadakan oleh Dewan Kesenian Lampung.

Lampung Arts Festival akan diselenggarakan selama dua hari, 24 hingga 26 November 2010, di beberapa tempat di Bandarlampung, seperti Taman Budaya Lampung dan Hotel Arinas.

Lampung Arts Festival akan diisi dengan Lomba Foto, pameran foto, seminar fotografi, pentas seni dan cangget bakha, lomba baca puisi bahasa Lampung, dan Lomba mewarnai antar-TK.

Lampung Arts Festival akan dimeriahkan dengan pementasan kesenian dan "cangget bakha" pada Kamis (25/11) malam di Taman Budaya Lampung.

Diharapkan tamu dari DK Provinsi Se-Indonesia bisa menikmati sajian kesenian khas Lampung dan cangget bakha.

Kemudian, pameran foto peserta lomba foto bertema transformasi di Ruang Pameran TBL (25-30/11), lomba baca puisi bahasa Lampung, Sabtu (27.11), dan lomba mewarnai pada Minggu (28/11).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau