Profil usahawan

Taryana Agak "Gila" Gara-gara Ubi

Kompas.com - 25/11/2010, 10:31 WIB

KOMPAS.com — Taryana (35) mengaku nekat waktu memutuskan belajar budidaya ubi pada tahun 1998-1999 di Jepang, tepatnya di Prefektur Gunma. Padahal, ia tak bisa bahasa Jepang. ”Di Jepang, saya sudah seperti romusa, sering dimaki pekerja lain supaya bekerja sempurna,” kenangnya.

Namun, gemblengan itu pula yang membuat Taryana sadar untuk bekerja keras. Singkat kata, tak ada yang menggerakkan Taryana untuk ngotot merantau, hingga ke Jepang sekalipun, selain kesenangannya meneliti ubi.

Selain memasarkan ubi, petani warga Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu sering melakukan eksperimen sederhana. ”Meski hasilnya hancur, tak apa-apa asalkan pengetahuan bertambah. Saya belajar sehingga tak melakukan kesalahan yang sama,” ujarnya.

Ia, misalnya, pernah menghasilkan 15 ton ubi pada tahun 2006. Akan tetapi, semua ubi terkena jamur. Semua itu dilakukan hanya untuk belajar. Taryana juga pernah punya mitra bisnis yang menanamkan modalnya untuk mengekspor ubi. Namun, negara-negara tujuan ekspor menolak.

”Di Malaysia dan Singapura, ubi tidak diterima. Ubi sebanyak 60 ton terkena lanas. Kejadian itu sekitar 10 tahun lalu. Saya rugi besar hingga Rp 500 juta,” katanya.

Pasang surut

Akibat kegemarannya meneliti, Taryana mengalami pasang surut usaha. Sejak tahun 1994 ia berkebun ubi. Saat itu Taryana memiliki lahan seluas 1 hektar yang menghasilkan 20 ton ubi per bulan. Tahun 1995, ia mampu meluaskan lahannya hingga menjadi 3 hektar.

”Waktu itu hasil panen bisa mencapai 50 ton per bulan. Sekarang saya hanya punya lahan sekitar 4.000 meter persegi. Hasilnya sekitar 10 ton per minggu,” tuturnya.

Lahan yang lain dijual karena beberapa kali ia menderita kerugian. Berkali-kali Taryana jatuh, tetapi tak juga kapok. Meski demikian, berkat pengetahuannya, ia mulai menuai hasil. Ubi yang dihasilkan saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu sekitar 2,5 ton per minggu.

Selain itu, bukan pelanggan sembarangan yang menjadi pembeli rutin ubi Taryana. Toko-toko dan beberapa supermarket ternama memesan ubi tersebut. ”Sekarang lima supermarket di Jakarta sudah memesan ubi secara rutin,” tuturnya.

Tenaga kerja yang terserap juga sudah bertambah, dari lima orang pada tahun 2009 menjadi 20 orang saat ini. Taryana mengaku sudah berkebun secara turun-temurun. Ia tak ingat persisnya. Namun, paling tidak kakek Taryana sudah menanam ubi.

”Saya bertekad terus bertani ubi dan belajar. Setidaknya saya ingin menjaga orisinalitas genetis ubi cilembu,” kata Taryana yang lahir di Cilembu itu. Ia tetap optimistis untuk menghasilkan ubi yang unggul dan memajukan usahanya.

”Tak ada yang tak mungkin kalau mau berusaha meski saya rasanya sudah agak gila gara-gara ubi,” Taryana berseloroh. Berkat ketekunannya, ia pernah menerima penghargaan sebagai Taruna Teladan dari Kontak Tani Nelayan Andalan dan bertemu Presiden Soeharto pada tahun 1995.

”Tetapi, saya belum berhasil. Setidaknya saya menargetkan bisa menghasilkan ubi sebanyak 10 ton per hari,” tuturnya merendah. (dwi bayu radius)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau